Perkenalan kita
memang masih tak bisa di bilang cukup lama. Pertemuan singkat beberapa bulan
yang lalu ternyata berujung manis sampai detik ini. Kini, kamu berhasil menjadi
pria satu-satunya yang membuatku takut kehilangan. Kamu, yang selalu mampu
mencampuradukkan perasaan ini. Yah, memang cuma kamu yang bisa menumbuhkan dua
rasa sekaligus di dalam dada, luka dan tawa. Tapi sayang, aku cukup bahagia
dengan permainan hidup yang kuarungi bersamamu.
Masih ku ingat
jelas saat pertama kali aku berjumpa denganmu, dengan pria yang tak pernah ku
temui sebelumnya. Waktu itu, saat aku sedang menikmati percikan canda di
kediaman sahabat dekatku, yang sekaligus adalah adik tingkatmu. Aku memang tak pernah
menyangka bila pertemuan kita bisa menjadi sedekat ini. Kamu selalu mampu
membuatku nyaman. Nyaman ketika berada di dekatmu, bertatap muka, dan bertukar
cerita sampai waktu tak pernah terasa begitu lama.
Awalnya, aku tak
pernah berfikir mengenai insiden yang akan terjadi beberapa hari kedepan setelah
perjumpaan kita kala itu. Kurasa mustahil jika secepat itu aku kembali
memutuskan dua buah kata yang sangat rawan terjadi di kalangan anak muda –
jatuh cinta. Memang cukup aneh rasanya. Pertemuan instan yang tak berlangsung
cukup lama bisa menghadirkan perasaan yang kurasa sangat konyol. Ah, aku tak
pernah ingin tau dengan hal itu.
Semakin hari, kamu semakin membuatku
merasa istimewa. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta
seperti tersetrum oleh energi magis. Perasaan kalut yang waktu itu selalu
menjelma dalam fikiranku pun lenyap seketika. Entah mengapa, tak kutemukan lagi
sesal yang lama menyelimuti otakku. Kini, aku telah merasakan gundah yang luar
biasa. Yah, gundah mengenai hati yang tiba-tiba menjadi tak karuan seperti ini.
Malam itu langit terlihat bersinar begitu sempurna. Suasana mendung yang
biasanya tampak di permukaan langit tertutupi oleh pancaran bintang yang
bertaburan dalam gelap. Saat itu kamu menyempatkan waktu untuk menghampiriku di
tempat yang tidak dekat. Bahkan diluar kota tempat tinggalmu, tingkahmu begitu
manis dan mengejutkan. Kamu yang selalu rela jauh-jauh, hanya untuk menemuiku.
Hal itulah yang tiba-tiba menumbuhkan sebuah rasa—kagum. Aku mengagumi
pengorbananmu hanya untuk wanita sepertiku, wanita biasa yang tak punya apa-apa. Aku salut dengan keinginan yang tersimpan dihatimu.
Aku tau sayang, kamu memang pria yang tak mudah menyerah. Dan selalu ingin
meraih apapun yang kau mau.
Aku tak percaya, dan aku hanya bisa terdiam saat kau mulai ungkapkan rasa. bercerita
tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga mengagumimu,
tapi aku tak ingin bilang. Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai
menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku.
Kala itu aku pun tak ingin menjawab segala pertanyaan manismu yang kau
lontarkan di hadapanku. Rasa gundahku saat itu memang semakin menjadi, aku tak
tau harus berkata apa. Hingga akhirnya kau pun pulang dengan wajah yang tak
seceria pada awalnya.
Aku berusaha memejamkan mata berusaha melupakan sejenak apa yang terjadi baru saja. Namun entah mengapa terasa begitu sulit
untuk segera lelap dalam mimpi. Aku tak mengerti tentang perasaanku. Akhirnya
kuputuskan untuk kujadikan kau di dalam bagian baru dalam cerita hidupku. Ternyata,
kebahagiaan itu mengalir perlahan dengan sendirinya.
Sekali lagi, terimakasih telah berani mencintaiku. Terimakasih untuk
rentetan waktu yang telah berjalan beberapa bulan ini. Kamu adalah sosok
penopang segala tawa dan keluh kesahku, aku mencintaimu pria aneh yang selalu
membangkitkan syaraf-syaraf kekhawatiranku. Selamat seumur jagung untuk
hubungan kita yang masih dibilang belum cukup lama. Doaku, kau lelaki terakhir
dihatiku.
Dari perempuan
yang kau bilang manja
yang selalu rindu
perhatianmu
yang selalu
ingin tau kabar darimu
dan selalu
takut kehilanganmu
Kediri, 20 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen yahh :)