Kamis, 15 Januari 2015

ARUS SANG WAKTU


Dahulu, engkau datang seketika
Saat senyap menghampiri
Saat badai itu menguras air mataku
Engkau hadir,
Dengan sejuta tawa kau bangunkan aku
Kau sadarkan aku
Dari kebodohan di masa laluku
Saat caci dan maki menguras emosi
Mengais-ngais dalam diri
Ku terhanyut oleh rasa kalut
Membelenggu,
Menyiksa,
Segala batin dalam jiwa
Namun, sosokmu menyadarkanku
Akan roda hidup ini, bila selalu berputar dan akan terus berputar
Hingga fajar dan senja datang kembali
Membuka lembar cerita masa kini
Hidup ini kembali berwarna
Ketika segumpal duka terbuang oleh waktu
Kini, tak ada lagi rasa bimbang
Tak ada butiran bening di rona pipi
Tak ada ambisi dalam sanubari
Semuanya lenyap jadi asap
Namun,
Segala rasa itu perlahan meleleh, mencair bagai gumpalan es
Menusuk relung sukma penuh sesak mengepung dalam hati
Engkau kemana?
Datang dan menghilang begitu saja
Menyisakan deraian air mata
Sungguh, ku tak sanggup dengan derita ini
Akankah secepat itu, semua kenangan terasa sepahit ini?

Kediri, 07 Januari 2015

Selasa, 13 Januari 2015

Liburan Mendongkrak Eksploralitas Diri




Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 10 januari 2015 saya dan teman-teman satu kelas akhirnya berangkat liburan. Meskipun tidak jauh dari tempat dimana kami menempuh pendidikan di perguruan tinggi ini, dan ternyata masih satu kota dengan kampus kami tercinta yaitu di kota kediri tepatnya di kampung Ndalem pojok, kecamatan wates (Situs Bung Karno), namun rentetan waktu yang kita jalani beberapa hari ini cukup menyenangkan dan memberikan banyak pengetahuan serta ilmu yang bermanfaat. 

Liburan kali ini memang berbeda dari liburan-liburan pada umumnya yang memprioritaskan kepuasan dan kesenangan semata tanpa menghiraukan hasil setelahnya yang akan di dapat. Kami memang merencanakan ini tidak lama, tetapi niat dan impian yang kuat menjadikan keinginan jadi kenyataan. Liburan untuk mencari kesenangan, semangat baru, ilmu dan pengetahuan baru, mengeksploralitas bakat yang  dimiliki, serta melatih keberanian. kami adalah mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia sudah sepatutnya untuk mengembangkan sastra secara utuh dan menggelutinya serta menjadikannya wadah untuk terus berkarya dan berkreasi.

Setelah banyak pro dan kontra yang telah terjadi, akhirnya kampung Ndalem pojok menjadi pilihan tempat kami berlibur selama dua hari yang lalu. Disini adalah sebuah situs untuk mengenang presiden kita yang pertama yaitu Ir.Soekarno, yah memang tidak banyak orang yang tahu tempat ini. Namun setelah menulis ini, saya berharap akan banyak orang yang tahu dan mau mengunjunginya. Terutama yang cinta akan sejarah dan sastra, disini merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menambah wawasan kalian tentang hal itu.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan kurang lebih selama dua jam lamanya, karena ada sedikit insiden yang tak terduga yaitu rombongan yang mulanya ada satu akhirnya terpisah menjadi dua dan ternyata rombongan saya itu tersesat di jalan. Namun hal tersebut tidak menjadi sebuah masalah besar, karena tak lama kemudian kami berhasil menemukan jalan yang sebenarnya dan alhamdulillah selamat sampai tujuan.

Sesampainya di tempat tujuan yaitu di kampung Ndalem pojok kami disambut dengan luar biasa oleh pihak disana. Mereka dengan senang hati mempersiapkan tempat, panggung untuk pentas, dan segala sesuatu yang kami butuhkan disana. Sungguh, betapa terkejutnya kami dengan sambutan baik yang mereka lakukan.

Pertama kali yang kami lakukan setelah sampai disana adalah membawa masuk dan membereskan barang-barang bawaan, lalu ditunjukkan beberapa kamar dari Bung Karno sewaktu masih bayi dan remaja, serta beberapa benda-benda yang ada di dalamnya. Acara pembukaan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan UUD 1945, baru kemudian acara inti dimulai yaitu mengenal lebih dalam seluk-beluk kehidupan Bung Karno sewaktu masih hidup. Dengan lugasnya dua orang pengurus situs tersebut menceritakan dan berbagi wawasan dengan kami. Setelah mereka berbicara panjang lebar mengenai sejarah bangsa Indonesia dan kehidupan Bung Karno, kami pun mulai menanggapinya dengan mengajukan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan dan dijawabnya dengan gamblang serta jelas. Hingga akhirnya pengalaman dan pengetahuan kami pun bertambah.

Kemudian setelah acara pertama selesai, kami beranjak untuk menyusuri luar rumah Ndalem pojok di dampingi oleh dua orang pengurus yang luar biasa itu. Mereka mengajak kami melihat sebuah pohon besar yang bersejarah (Pohon Kepoh) dengan dialiri sebuah sungai kecil yang airnya tak lagi jernih. Sungai itu dahulunya di jadikan tempat mencari ikan oleh Bung Karno sewaktu masih kecil. Di sepanjang jalan dikelilingi tanaman ketela pohon yang sangat lebat dan subur.

Pada malam harinya merupakan acara puncak yang sangat kami nanti-nantikan yaitu pentas seni yang kami gelar sendiri, kami menjadi panitia, serta kami menjadi aktor yang berperan di atas panggung nanti. Setelah beberapa jam selesai mempersiapkan segala sesuatu. Pada pukul 19.30 acaranya pun dimulai, disambut secara antusias oleh teman-teman sastrawan kediri dan sekitarnya, teater merah putih, serta warga sekitar Ndalem pojok. Acara pensi di buka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, di lanjutkan dengan sambutan dari ketua kelas kami IA PBSI, dan sambutan dari bapak kepala desa kampung Ndalem pojok serta penyerahan kenang-kenangan. Setelah itu rangkaian acara pun berjalan lancar diantaranya pembacaan puisi, pementasan teater, pementasan musik, pertunjukan tari, serta penampilan lainnya dari para penonton. Acara penutupan dilakukan dengan foto bersama baik pengisi acara maupun tim sukses acara yaitu para penonton yang begitu dahsyat. Setelah pentas selesai disusul dengan seresehan dan diskusi dengan para sastrawan hebat, disini kami saling berbagi pengetahuan, pegangan hidup, makna sejarah dan seluk-beluk sejarah, wawasan tentang seni dan sastra, serta motivasi diri. Kemudian pukul 00.00 dilanjutkan berkelana ke pulau kapuk.

Pagi harinya, kami disuguhi dengan berbagai macam pertunjukan seni oleh anak-anak kecil mulai dari umur umur tiga tahun hingga remaja yang sedang mengasah bakat dan kemampuannya dalam berkarya di bidang seni. Di sanggar yang terletak di sebelah tempat kami menginap di gunakan untuk bermain karawitan, belajar menari, belajar menyanyi, pertunjukan wayang kulit dan berbagai macam kesenian lainnya. Dengan senangnya kami ikut menyaksikan mereka belajar dan akhirnya kami pun ikut belajar menari, menyanyi maupun karawitan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga. Dan tak kalah bahagianya ketika wartawan indosiar mengikuti berbagai rangkaian acara seharian ini, dan beberapa dari teman saya ada yang di wawancarai olehnya.

Setelah segala acara selesai, pada tanggal 11 januari 2015 pukul 14.00 kami berkemas kembali, berpamitan  dan bergegas pulang ke kampung halaman masing-masing. Dua hari itu merupakan rentetan waktu yang berharga dan istimewa dalam hidup kami. Suka dan duka, senang dan sedih, tawa dan tangis, emosi dan air mata semuanya beradu satu melahirkan sesuatu yang baru—pengalaman. Dan akhirnya kami bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa kami mampu membuat acara sesukses ini dan sekali lagi lewat tangan kami sendiri—kelas IA PBSI UNP Kediri.


Terus berkarya dan berkreasi
dan jangan pernah patah semangat
untuk kelasku tercinta
IA PBSI UNP Kediri
tunjukkan pada dunia
bahwa kita mampu dan layak untuk di banggakan




Kamis, 08 Januari 2015

Saat Kalut Berubah jadi Rasa Takut



Malam ini, entah mengapa aku kembali memikirkanmu lagi. Sebuah kalimat sederhana yang kau kirimkan padaku beberapa menit yang lalu ternyata mampu membuat perasaanku tak karuan lagi. Entahlah inikah yang namanya kalut atau perasaan takut. Ku pikir aku mulai mengkhawatirkanmu sayang. Sungguh, tanpa tersadar aku ikut merasakan kesakitan yang kau rasakan saat ini. Yah, kamu sakit. Itu yang kau katakan padaku tadi, sebelum akhirnya ku terlelap dalam gundah. 

Sepertinya, waktu semakin larut. Namun, belum juga kurasakan tanda-tanda untuk ingin segera terlelap di tempat tidurku. Aku masih saja resah memikirkanmu, karna lagi-lagi kau tak ada kabar. Hanya di temani suara merdu rentetan lagu penyanyi idolaku; Bruno mars dan segelas minuman penghangat ini, ku coba kembali untuk membuka laptop diatas meja belajarku. Dan kau tau sayang? lagi-lagi hanya untuk sekedar menulis rangkaian kalimat tentangmu yang tentunya tak pernah terbaca olehmu. Karna ku tau kau tak suka menggubris hal-hal kecil seperti ini. Semua ini karna kau menghilang kembali.

Kali ini, aku mencoba untuk menurut apa katamu sedari dulu untuk selalu percaya denganmu. Mungkin kamu tertidur lagi atau kamu ingin sejenak memulihkan keadaanmu, iya kan sayang? hingga kau melupakanku yang setengah mati memperdulikanmu. Aku tidak ingin sebodoh kemarin lagi. Hingga membuatmu marah sedahsyat itu padaku. Karna rasa curigaku yang memang itu salah.

Meski kita tak sering bertemu. Meskipun aku tak sering melihatmu dalam nyata. Dan hanya lewat handphone mungil ini kita bertukar cerita setiap hari. Tapi percayalah sayang, aku tetap mencintaimu. Dan kini, aku sungguh merindukanmu. Aku rindu kata bijak dari mulutmu, hangat pelukan tubuhmu, genggaman jemarimu, dan ku rindu suara detak jantungmu yang kau tau sangat ku sukai, serta tatapan matamu yang kaupun mengerti sangat kutakuti. Tetapi entah mengapa kini ku sungguh merindukan tatapan itu, dan semua yang kutuliskan itu. Yah, ku tau mungkin karna sudah terlalu lama kita tidak berjumpa. Setelah hampir satu bulan yang lalu ku merasakan semua itu. 

Bukan karena hati kita jauh apalagi tempat kita terlalu jauh. Akan tetapi mungkin memang belum waktunya kita kembali bertemu. Seperti yang selalu kau katakan padaku sayang. Jika memang sudah waktunya bertemu, pasti kita akan bertemu. Aku percaya pada saatnya Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. Terlalu dekat namun terlalu sulit bertatap muka. Itu pedih.

Dan kini, aku hanya bisa berdo’a untuk kesembuhanmu. Ku ingin kau lekas kembali seperti biasanya yang ceria dan penuh tawa. Meski perhatianku tak kau gubris sedikitpun. Dan kekhawatiranku tak kau hiraukan sekalipun. Aku masih tetap bisa tersenyum dan inginkan kau untuk tak merasakan sakit itu lagi.

Aku begini karna aku menyayangimu. Dan kau mengerti sayang? kamulah alasanku untuk menjadi sekuat ini, meski berkali-kali karena sikapmu tanpa sadar kau melukaiku.

Dari gadis mungil
yang sangat mencintaimu

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...