SECUIL LUKA TUMBUHKAN MILYARAN TAWA
Hari
ini begitu cerah. Langitpun terlihat sangat indah, ditemani sang surya dengan
sinar terangnya yang menerobos cepat sampai ke sudut-sudut bumi ini. Kicauan
burung yang bernyanyi di atas pohon besar di samping sekolah juga terdengar
merdu menyambut indahnya mentari pagi. Suasana kelas saat ini masih terlihat
sunyi. Semua bangku dalam ruangan inipun masih terlihat kosong, kecuali meja
dan kursiku yang terletak paling depan dari rentetan bangku lainnya.
“Kenapa
cerahnya langit tak secerah hatiku saat ini? Kenapa masalah tak hentinya datang
tanpa permisi? Mempermainkan perasaanku, membuatku bertanya-tanya akan
keindahan di balik semua ini” pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benakku. Entahlah
aku benar-benar bingung, apa yang harus aku perbuat nanti. Apakah sebuah kata
maaf dapat merubah semuanya jadi lebih baik.
Kudengar
suara hentakan kaki dari luar kelas. Semakin lama suara itupun terdengar
semakin jelas. Tak mungkin salah, hentakan kaki itu menuju ruangan kelas yang
kutempati saat ini.
“Apakah
itu Arka? Aku tau kebiasaannya, dia selalu berangkat paling pagi dari siswa
lainnya. Tak mungkin salah lagi.” Fikirku dalam hati. Cowok berbadan tegap,
berkulit coklat, dan memiliki model rambut yang acak-acakan itu sudah menjadi
ciri khas dia. Arka adalah sahabatku dari kecil. Mulai aku dan dia dilahirkan
hingga saat ini orang tuaku dan orang tuanya begitu dekat. Aku dan Arkapun
demikian. Tak pernah ada masalah, semuanya terlalu indah.
Ternyata
benar semua tebakanku tadi. Arka muncul dari balik pintu lalu menyelonong masuk
begitu saja. Sekilas dia menatapku, namun sekejab dia mengalihkan pandangannya
dan segera menuju bangku paling belakang yang di tempatinya setiap hari. Tak
sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mungkin hanya tatapan mata yang dapat
berbicara.
Memang,
aku tak melihat sedikitpun kebencian dari wajahnya. Mungkin hanya ada
kekecewaan yang mendalam dihatinya. Dan itu tercipta untukku. Karna
kesalahpahaman semua keindahan lenyap menjadi kekecewaan.
Kutengok
disekelilingku masih terlihat sepi. Mungkin hari ini aku berangkat terlalu pagi
dari biasanya. Perlahan, aku mencoba mendekati Arka. Memberanikan diri untuk
meminta maaf padanya. Meskipun aku tau mungkin kata maaf tak dapat merubah
semua yang telah terjadi. Atau mungkin kata maaf tak dapat menghapus sebuah
kekecewaan. Tetapi setidaknya aku sudah berusaha memulihkan keadaan ini. “Beri
kekuatan untuk Cika Tuhan. “ akupun berusaha meyakinkan diri sendiri.
“Hey,
aku ingin bicara. Aku ingin minta maaf atas semua perbuatanku yang mungkin
menyakitimu. Aku tau kekecewaanmu begitu dalam. Tetapi kalau boleh memilih aku
juga tak ingin semua ini terjadi.” Akupun mulai berbicara dan menjelaskan semua
kesalahpahaman ini.
“Sudahlah,
lupakan. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya yang telah terjadi tak mungkin
kembali seperti semula.” Jawab Arka dengan wajah kesalnya.
“Aku
tau itu. Aku mengerti rasanya kecewa. Teramat sakit bukan? Tapi salahkah bila
aku ingin meminta maaf padamu? Salahkah bila aku ingin memulihkan keadaan suram
ini? Tuhan saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak? Aku cuma ingin sebuah
kalimat sederhana keluar dari mulutmu, maafkankanlah aku.” Ucapku lirih sambil
menitikkan air mata.
Setelah
mendengar kata-kataku itu Arkapun akhirnya mau memaafkanku. Aku sangat
bersyukur Tuhan. Aku selalu tau engkau maha segalanya. Tak akan ada masalah
tanpa hikmah. Engkau selalu punya rencana indah di balik kejamnya lika-liku
kehidupan ini.
**
Hari-hari
berjalan seperti biasanya. Dalam sekejab masalah itu hilang melayang tak
terjangkau oleh pandangan. Aku merasa bahagia, hidupku terasa sempurna
dikelilingi keluarga dan sahabat yang begitu menyayangiku. Tanpa balasan apapun
atau tuntutan apapun. Mereka menciptakan spektrum warna dalam kehidupanku yang
indah ini. Terimakasih Tuhan engkau telah memberikanku hidup di tengah-tengah
hangatnya surga kecil yang telah mereka ciptakan. Semoga ini tak sementara
namun ku berharap selamanya. “Tetapi, terlalu munafikkah diriku, jika ku
mengharap semua itu?” aku hanya bisa bertanya penuh harapan.
**
Bulan
demi bulanpun berlalu. Kini tiba saatnya dimana takdir harus berbicara. Semula
aku terkejut hampir tak percaya. Akupun tak pernah membayangkan sebelumnya.
semuanya seperti mimpi buruk bagiku. Aku memilih diam dan menyembunyikan kenyataan
pahit ini dari Arka. Aku tak ingin menumbuhkan kekecewaan yang kedua kalinya
dihatinya. Mungkin ini yang terbaik saat ini.
Dua
hari lagi momen penting dalam hidupku akan terjadi. Pengumuman kelulusan.
Itulah yang ku nanti-nantikan selama ini. Aku berharap keajaiban akan
menghampiriku kembali. Rasanya sudah tak sabar mununggu hari itu. Tatkala
mengingat semua itu. Aku jadi ingat perkataan mama dan papaku kemarin.
“Apakah
aku sanggup menjalani kehidupan baruku nanti? apakah kehidupan baruku nanti
akan seindah kisah hidupku saat ini? Tentunya tanpa orang yang sudah menjadi
bagian penting dalam hidupku, Arka. Jujur benih-benih cinta itu mulai ada dalam
hatiku. Diam-diam aku mulai menyukai Arka. Tetapi mengapa aku baru menyadarinya
sekarang, dan disaat itu pula aku harus benar-benar menerima kenyataan bahwa
aku dan dia tak mungkin bersatu. Aku tau ini salah. Tak seharusnya perasaan ini
tumbuh dari hatiku. Keadaan ini semakin mempersulitku.” Keluhku dalam hati.
**
Hari
demi haripun berlalu. Hingga saat ini pengumuman kelulusan telah tiba. Bingung,
takut, gundah, senang semuanya jadi satu. Mencampuradukkan perasaanku. Aku tak
menyangka bahwa aku sudah mulai dewasa, sebentar lagi aku akan merasakan
indahnya masa putih abu-abu. “Bagaimana ya rasanya jadi anak SMA ? hmm, begitu
indah bukan?” tanyaku dalam hati.
“Terimakasih
Tuhan ! ternyata sebuah kata “lulus” mampu menghadirkan bahagia yang luar biasa
untukku. Aku bersyukur mendapatkan nilai yang cukup memuaskan ini. Aku ikut
senang Arka juga lulus dengan nilainya yang memuaskan pula. Tapi aku takut
kebahagiaan ini hanya sementara?” rasa syukur dan keluhan itu tiba-tiba keluar
dari mulutku.
**
Beberapa
hari kemudian, aku menemui Arka ditempat biasa kita bertemu. Ternyata dia sudah
ada disana. Perasaan kalut ini mulai menyelimutiku. Darimanakah aku harus mulai
berbicara. Seakan bibirku terkunci rapat sebagai tanda ketidakrelaan keluarnya
kata-kata pahit dari mulutku nanti. Oh Tuhan. Beri aku kemudahan.
Arkapun
mulai bertanya-tanya padaku. Mengapa aku mengajaknya bertemu disini. Dia juga
berkata bahwa dia ingin mengajakku bersekolah pada sekolah yang sama. Aku
semakin takut perkataanku nanti akan memupuskan harapannya. Tapi aku harus
benar-benar berbicara padanya.
“Arka,
besok aku akan pindah ke Makassar. Papaku ada panggilan kerja disana. Mungkin
saat ini terakhir kali kita bertemu. Dan selamanya aku akan tinggal disana. Maafkan
aku !” dengan menahan tangis, aku berusaha tegar berbicara itu kepada Arka.
“Tidak
! kamu bohong. Iya kan cik? Aku tau kamu cuma pura-pura berbicara seperti itu.
Sudahlah jangan bercanda mulu. Nggak lucu tau !” Tanggapan enteng dari Arka itu
semakin membuatku kesal.
“Apa
wajahku kelihatan bercanda? Aku serius. Sudahlah, aku harus siap-siap sekarang.
Besok aku harus benar-benar berangkat.” Jelasku singkat sambil pergi
meninggalkan Arka.
Sebenarnya
dalam hati kecilku tak tega melihat raut muka Arka yang diselimuti kesedihan.
Namun apa daya, inilah takdir yang harus aku dan Arka jalani saat ini.
Arkapun
menarik tanganku. Dia berusaha menahanku pergi dan mengikutiku dari belakang.
Langkah kaki inipun semakin berat. Tanpa sadar air mata mulai membasahi pipiku.
Tak hentinya dia terus dan terus bertanya akan kejelasan semua ini. Tapi aku
hanya terdiam. Sampai di rumah, akupun segera masuk ke dalam kamar, lalu
mengunci rapat pintu kamarku. Aku mendengar suara teriakan Arka dari luar
rumahku. Tetapi, tak sedikitpun aku menghiraukannya. Semua itu membuatku
semakin bersalah.
**
Pagi
harinya sebelum aku pergi, ia memberikan sebuah surat kecil untukku. Entahlah
apa isinya. Dia menyuruhku tidak membukanya sekarang. Dan itu semakin membuatku
penasaran. Aku melihat air mata kesedihan dalam matanya. Tapi aku juga melihat
ketegaran yang luar biasa dalam dirinya. Aku percaya Arka adalah laki-laki yang
kuat.
“Cika,
ayo masuk ke mobil. Kalau kelamaan kita bisa ketinggalan pesawat sayang.” Ajak
mama sambil mengunci pintu rumah yang kutempati saat ini.
“iya
ma, sebentar” jawabku lirih.
“Selamat
tinggal Arka. Aku berharap kamu baik-baik saja. Semoga kamu bahagia disini.
Walaupun tanpa aku.” Ucapku pelan kepada Arka.
“sssst,
jangan pernah katakan perpisahan, karna itu akan menghapus harapan kita untuk
berjumpa kembali. Jika Allah berkehendak, suatu saat kita pasti bertemu lagi.”
Sahut Arka. Perkataaannya itu seakan membuatku tenang. Aku iri kepadanya kenapa
dia bisa setegar ini. Sedangkan aku tidak.
Perlahan
suara tajam mobil yang di kendarai papaku mulai meninggalkan kota ini. Pepohonan
hijau yang rindang, suara menawan burung bernyanyi lama-kelamaan mulai tak
terdengar lagi di telingaku. tiga jam lebih aku berada didalam mobil ini,
tiba-tiba kuteringat surat kecil dari Arka tadi.
“Hmm,
sudah tak sabar rasanya ingin membuka surat kecil ini.” Akupun mencoba
membukanya perlahan lalu membacanya.
Dear . . .
Buat sahabatku tercinta
Waktu
yang mempertemukan kita
Waktu
pula yang memisahkan kita
Biarlah
begitu jauh jarak diantara kita
Aku
berharap tak akan ada air mata
Dan kupercaya
perpisahan bukan akhir segalanya
**
Tiga
tahun menguap cepat. Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabar dari
Arka. Terkadang kurindu saat-saat indah bersamanya. Dia yang tak pernah bosan
memberikan pengertian-pengertian kecil di setiap masalah yang menghampiriku.
Dia yang selalu ada untukku saat aku terpuruk kesakitan ataupun disaat
kumerasakan indahnya sebuah kebahagiaan. Dia selalu mampu memberikan warna
dalam hidupku. Namun semua itu hanyalah kenangan semu. Aku sadar sekarang tak
ada lagi dia dihidupku.
**
Tak
terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang aku sudah lulus SMA begitupula
Arka. Aku sudah mulai mendaftar di beberapa universitas. Dan akhirnya aku diterima
di sebuah universitas ternama di Indonesia, Universitas Brawijaya. Hmm, betapa
bahagianya diriku. Sekarang aku tinggal di kota Malang. Semua yang ku impi-impikan
akhirnya tercapai.
Suatu hari
aku duduk di sebuah tempat favoritku di kampus.
Tiba-tiba lelaki tinggi berbadan tegap dengan model
rambut yang lumayan rapi datang menghampiriku. Aku tak tau darimana asalnya
lelaki ini, dengan cepatnya muncul dihadapanku. Lalu dengan santainya duduk
disampingku. Semula aku terkejut. Namun dalam sekejap jantungku berdebar begitu
kencang. Aku seperti mengenal dekat lelaki disampingku ini. Aku baru sadar
ternyata dia adalah Arka. Mungkin karena model rambutnya yang baru, Arka
terlihat berbeda. Dia terlihat semakin dewasa sekarang. Kerinduan yang begitu
dalam dihatiku seakan lenyap. Dia berbisik lirih di telingaku “Secuil luka
tumbuhkan milyaran tawa” lalu lahirlah senyuman kecil di bibirku. Sekarang aku
percaya takdir Tuhan itu tak ada yang tidak mungkin. Ternyata Arkapun kuliah
ditempat yang sama denganku.
TAMAT