Waktu memang tak bisa
di tebak. Tak pernah kusangka sebelumnya aku bisa kenal denganmu hingga sedekat
ini, dengan pria yang katamu aneh, konyol, gila, sinting, dan apalah ku tak
pernah perduli semua kata-kata burukmu itu yang semuanya kuanggap tak perlu.
Kau selalu saja memamerkan keburukanmu di hadapanku. Tak pernah sekalipun kau
membanggakan dirimu dengan semua kelebihan-kelebihan yang kau miliki, kurasa
itu sesuatu yang kutemukan berbeda dari dirimu. Kamu sosok yang sangat langka
jika dicari dalam hamparan bumi ini.
Kau tau sayang?
Mengenalmu membuatku jadi gila. Gila karena kau selalu bergerilya di otakku.
Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kau semakin membuatku tersiksa.
Tersiksa oleh rindu yang begitu hebatnya. Ini bukan kata-kata manis yang begitu
saja terlontar dari mulutku. Kurasa aku tak pernah bohong, semuanya benar-benar
terjadi dalam nyata yang menyelinap dalam raga.
Ternyata memang
benar, bahwa pertemuan pertama menimbulkan rasa penasaran, pertemuan kedua menimbulkan
rasa rindu, pertemuan ketiga dan seterusnya menimbulkan rasa kecanduan. Yah, aku
selalu tertawa dengan kalimat sederhana yang ku buat-buat sendiri itu.
Semuanya berjalan
begitu cepat. Aku yang semulatak mengerti apa-apa soal rumitnya cinta, apalagi
mencintaimu. Bahkan tak pernah sedikitpun terfikirkan di benakku untuk membuka
hatiku untukmu. Karena ku tahu, kamu adalah sosok indah dari masa lalu
sahabatku. Kurasa mustahil, jika ini benar-benar terjadi. Namun apalah dayaku,
rasa ini memang benar-benar ada dan sekarang menjelma dalam lingkup kecil ruang
hatiku.
Semua ini salahmu.
Mengapa begitu cepat kau utarakan rasa suka, sayang, bahkan cinta. Jika kamu
saja belum mengenal siapa aku dan bagaimana hidupku. Lalu, apakah ini bisa
dikatakan sebagai sebuah ketulusan yang sejati? aku tak pernah mengerti sayang.
Dan ini juga salahku karena dengan mudah ku percaya semua kata-katamu. Mungkin
karena perasaan yang sama juga kualami. Tetapi mengapa, kau selalu saja
menganggapku ragu. Seolah kamu lebih mengenal aku daripada diriku sendiri.
Ingin rasanya menatap
tajam mata itu, saat kau mulai menatapku begitu dalam. Tapi ku terlalu lemah,
melihat matamu pun aku tak mampu. Yah, seperti kau bilang, mungkin aku terlalu
takut sayang. takut untuk lebih dalam mencintaimu. Karena aku tau, berani untuk
mencintai seseorang itu berarti pula harus berani untuk kehilangannya. Dan ku pikir
aku tak tahu, akankah ku sanggup jika suatu saat kau akan pergi dari hidupku
disaat aku benar-benar butuh kamu. Takdir Tuhan itu tak ada yang tak mungkin.
Hadirmu memberikan
spektrum warna dihidupku. Kau berikan percaan tawa dalam selip duniaku. Kau
biarkan aku terbang dalam sebuah keterlenaan yang akupun tak mengerti bagaimana
akhirnya. Akankah bahagia ataukah duka?
Masih ingatkah engkau
sayang? beberapa hari yang lalu kita bertemu. Di tengah terangnya sang bintang
yang bertabur ria dalam sergapan mendung. Di terjang riuhnya suara rintik hujan
yang semakin membabi buta. Aku sadar semuanya terjadi begitu saja. Tanpa
permisi lalu dengan cepatnya menyelonong dan membekas dalam ingatan. Disaat itu
pula aku nikmati suara detak jantungmu yang berdebar kencang, pelukan tubuhmu
yang begitu hangat serta genggaman jemarimu yang sangat erat.Kurasa malam itu benar-benar
istimewa.
Mungkin kau anggap
aku bodoh, tolol, penakut, seperti anak kecil, suka bikin ilfiel dan apalah itu
seperti katamu. Aku tak pernah perduli sayang. Karna memang beginilah aku
dengan segala kekuranganku. Jika kamu benar-benar inginkan aku, jangan pernah
lukai hatiku.
Aku menulis ini
semata-mata hanya untuk melampiaskan isi hatiku. Aku tak pernah ragu untuk
mencintaimu sayang, mengertikah engkau? Asalkahengkau tahu cinta itu memang
butuh proses, yang semuanya itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin
aku terlihat canggung, karena aku takut berlaku salah dihadapanmu. Namun jangan
pernah kau anggap ini adalah sebuah keraguan. Itu salah.
Bahkan sangat salah.



