Ku pikir semuanya akan
baik-baik saja setelah insiden tanpa sengaja beberapa hari yang lalu. Yah,
kurasa demikian, karena ku tahu kamu bukanlah sosok pendiam yang tak banyak
bicara. Insiden itu benar-benar menyisakan kekecewaan yang luar biasa untukku.
Andai ku dapat memutar waktu, aku tak
ingin semuanya terjadi begitu saja. Seketika lenyap tanpa asap namun
membekaskan luka baru yang lebih menyedihkan.
Apa mungkin karena
cemooh teman-temanku yang tak bertanggung jawab itu. Atau mungkin itu dari
hatimu sendiri. Akupun tak pernah mengerti sayang. aku seperti anak kecil yang
seolah tidak mengerti apa-apa. Di hadapanmu aku terlihat begitu tolol. Kau
biarkan aku berfikir keras atas sesuatu yang tak pasti. Aku seperti menunggu
sesuatu yang tak pernah datang. Taukah engkau apa yang kurasa? Tentu, kau tak
akan pernah mau tahu. Sadarkah engkau sayang? tingkah lakumu beberapa hari ini seakan
membumihanguskan perasaanku.
Lalu mengapa setelah
pertemuan kesekian kalinya kita, kau masih menatap jelas kedua mataku, kau
berikan perhatian-perhatian kecil untukku, dan kau lontarkan kata-kata manismu
yang entah untuk apa dan ada maksud apa di balik semuanya itu. Semula aku
menanggapinya dengan biasa. Tak sedikitpun aku merasa ada sesuatu yang berbeda.
Namun seiring berjalannya waktu semuanya berubah begitu cepat. Semua rasa itu
ada karena terbiasa. Mungkin demikian, perlahan aku mulai mencarimu.
Aku suka matamu. Aku
suka caramu berbicara. Dan aku suka sikapmu yang tak pernah kasar. Biarlah
orang berkata apa tentangmu, aku tak pernah perduli. Memang kau bukan pria
baik-baik. Dan kau jadikan merokok sebagai kebiasaan rutinmu. Dan aku tak
pernah perduli itu. karena dibalik kebiasaan burukmu itu, tersimpan banyak
kebaikan yang tak banyak orang tau.
Aku mengerti, kita
memang tak lama saling mengenal. Kau yang seketika muncul, dan terkadang
menghilang begitu saja bagai hantu. Kau selalu menghantui hidupku dengan
kata-kata manismu yang kurasa itu palsu. Kita memang tak setiap hari bertemu,
namun dengan ketidakseringan itulah mampu mengahadirkan rindu yang menggebu.
Masih ingatkah engkau
sayang? Saat pertama kali kita beradu cerita tentang kehidupan kita. Aku baru
menyadari ternyata kau tipikal pria yang suka bercerita dan kau tahu aku lebih
suka mendengarkan daripada bercerita. Aku memang tak seperti perempuan pada
umumnya yang banyak bicara. Aku hanya akan berbicara atas apa yang perlu di
bicarakan saja. jika itu tak penting bagiku, aku pasti lebih memilih diam. Kita
memang sangatlah berbeda. tapi kurasa perbedaanlah yang nantinya akan mampu
menyatukan sebuah perasaan.
Tapi mengapa? Setelah
kita sedekat ini, waktu mulai menjauhkan kita. Kau yang semula santai dan
menganggap semua hal sulit menjadi mudah. Kini berubah menjadi dingin dan
menganggap semua hal mudah menjadi sulit. Entahlah apa sebenarnya yang
membuatmu berubah sedrastis ini?
Apa kau mulai bosan
denganku? Atau kau mulai lelah dengan sikapku? Memangnya apa kesalahanku
sampai-sampai kau membuatku menyimpan tanda tanya besar di otakku. Ku ingin
engkau cepat sadar, dan ku berharap kesadaranmu tak melukaiku.
Dari
gadis pengagummu nomor satu