Senin, 03 Agustus 2015

Hanya sebatas teman, tidak lebih



Beberapa bulan yang lalu, tepatnya setengah tahun setelah aku berjumpa denganmu dan mengenal sosokmu begitu dekat, lelaki lugu berwajah manis, berkulit putih, dan selalu bertingkah konyol. Sekonyol kelakuanmu saat pertama kali bertemu denganku, yah masih ku ingat jelas saat itu. saat kamu memintaku mengajarimu bagaimana cara bekerja di tempat orang. Kita memang dipertemukan oleh Tuhan di tempat kita mengais rupiah. Memang, pertemuan kita tak cukup indah. Namun hadirmu yang sekejap mampu merubah hariku yang semu menjadi lebih indah.
 
Baru sebentar rasanya aku kenal denganmu, dengan lelaki yang tak ku tahu bagaimana sifat dan karakternya setiap hari, lelaki yang tak ku ketahui bagaimana dia yang sesungguhnya, tetapi yang ku mengerti kamu adalah lelaki sempurna yang tak ku temui dalam perjalanan hidupku sebelumnya. kau istimewa, lembut tutur katamu, sholeh, pekerja keras, apa adanya, selalu mementingkan orang lain di banding dirimu sendiri, dan kau tau? Apa yang paling begitu kusukai darimu sayang? kamu selalu menghargai perempuan, apapun dan bagaimanapun perempuan itu, bahkan yang telah menyakitimu pun masih saja kau bersikap baik dengannya. Benar-benar langka lelaki sepertimu di muka bumi ini.

Kamu memang selalu bersikap manis dengan semua orang, termasuk aku. Selalu kau tunjukkan bahwa kau lelaki terbaik dengan segala kelebihan dan kelemahanmu itu. Tak ku ingkari, bahwa kamu selalu mampu membuat segala gundahku berubah jadi tawa kecil yang menjelma menumbuhkan bahagia luar biasa. Aku salut, karena kaulah sosok baru yang begitu cepat meracuni otakku dengan rasa yang tak biasa—kagum.

Mungkin ini memang rasa kagum yang sengaja hadir seketika di dalam dada. Karena segala perlakuanmu yang tak biasa itu. Tetapi ku sadar, itu hanyalah sebatas kagum, iya hanya rasa kagum. Tidak lebih. Aku menganggapmu seorang kakak yang sangat luar biasa hebatnya, mungkin demikian ada rasa sayang, tetapi rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, begitu.

Tak munafik, saat itu aku memang sedang memiliki seorang kekasih. Seorang kekasih yang begitu kucintai dan mencintaiku. Tetapi salahkah jika aku mengagumi lelaki lain yang bukan siapa-siapaku dan bahkan baru kukenalpun. Kurasa tidak ada yang salah, karena kamu memang pantas untuk ku kagumi dengan pribadimu yang luar biasa baik itu.

Perkenalan kita memang tak cukup lama, mungkin hanya beberapa minggu tetapi rasanya aku sudah sangat dekat denganmu. Aku memang tak pernah memilikimu namun rasanya begitu sakit ketika kau bilang bahwa hari itu adalah terakhir kalinya kita bertemu, memang aneh bukan. Kau selalu begitu banyak alasan jika ku tanyai alasanmu untuk pergi dari tempat kita dipertemukan itu. Kau bilang harus segera membereskan segala sesuatu tentang kuliahmu, tentang hobimu di dunia Kepramukaan, atau mungkin ada hal yang lain. Akupun tak pernah tau sayang. semua alasanmu itu tak ada satupun yang bisa kumengerti, mungkin aku terlalu takut bagaimana selanjutnya aku harus menjalani segala sesuatu kembali yang sudah kubangun sampai detik itu. Tentunya tanpamu lagi.

Akupun terbiasa menjalani hari-hari tanpa sosok yang sangat ku kagumi hatinya. Hingga sampai saat ini, hingga hubunganku pun berakhir dengan kekasihku yang dahulu. Yang kau pun tahu dan selalu mengejekku dengan candaan kecilmu yang selalu mampu membuatku tertawa. Iya, sekarang mungkin sudah setengah tahun setelah perkenalan kita. Saat ini aku dan kamu sudah sama-sama liburan panjang kembali, liburan setelah UAS. Saat ini aku akan menginjak semester 3 dan masih ku tahu kamu akan menginjak semester 7. Kita memang satu kampus perkuliahan, tetapi setelah perpisahan itu sesekalipun aku tak pernah bertemu denganmu lagi atau bahkan bertatap muka tanpa sengaja pun juga tidak pernah.

Aku tahu, mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukanku denganmu hanya untuk sebatas teman, atau hanya sebatas adik-kakak. Mungkin memang demikian, sekali lagi aku sudah cukup bahagia. Terimakasih atas segala hal yang pernah kau berikan untukku, terimakasih untuk sikap manis dan semua perhatianmu yang luar biasa itu. Terimakasih untuk rencana beberapa hari kedepan yang sengaja kau buat untukku, untuk kita. Semoga semua itu tidak hanya sebatas rencana namun akan jadi nyata yang akan tumbuhkan air mata bahagia.


Dari adikmu yang begitu mengagumimu
Kakakku yang begitu sempurna dan istimewa dimataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komen yahh :)

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...