Sudah berbulan-bulan kita tidak
berjumpa, tidak pernah saling bertatap muka ataupun berbicara seperti tiga
tahun yang lalu ketika kita masih satu tujuan. Ketika kau pilih jalanmu sendiri
tanpa kau hadirkan aku lagi dalam hari-harimu. Akupun bertekat untuk tak mau
tau lagi hidupmu dan semua tentangmu. Ku putuskan untuk secepat mungkin
hilangkanmu dari benakku. Kau tau? Seberapa keras perjuanganku. Seberapa kuat
usahaku melupakanmu sayang? tentu kau tak akan pernah tau. Saat itu, kau
putuskan pergi hanya karena sebuah alasan yang menurutku benar-benar konyol dan
kurasa selama rentetan waktu kau denganku hanya kau buat main-main. Kau pikir
semua itu sebuah permainan? Yah, kau lelaki. Mungkin hal semacam ini selalu kau
anggap enteng. Tapi tidak bagiku, karena aku wanita yang selalu terpaut
perasaan.
Aku masih tak habis pikir dengan
insiden dua hari yang lalu ketika dengan nyata aku melihat wajah lonjongmu,
elok lesung pipimu, senyum pelangimu yang dahulu selalu kau banggakan, suara
serakmu yang khas dan masih banyak lagi yang tentunya tak cukup jika kutuliskan
dengan kata-kata. Semuanya masih tetap sama, kurasa kau tak banyak berubah
seperti tiga tahun yang lalu saat kamu masih menjadi milikku. Mungkin yang
membuatmu sedikit berbeda adalah potongan rambutmu yang terlihat rapi serta
penampilanmu yang semakin terlihat dewasa. Semenjak kepergianmu, aku memang tak
pernah lagi mendengar kabarmu. Mungkin sesekali bertemu dalam kilatan waktu
yang itupun tak cukup membuatku tau bagaimana sosokmu dengan jelas.
Di tengah rentetan buku yang
terpajang rapi itu, di sepanjang tumpukan kata yang tersusun dengan indahnya menjadi
sebuah bacaan yang sangat menarik, menurutku. Sore itu sehabis hujan reda, ku
luangkan waktuku kembali untuk datang ke toko buku—Pustaka 2000. Kembali hanya
untuk mencari buku-buku unik yang nantinya akan kujadikan sahabatku menjalani
hari-hari. Tanpa ku tau tiba-tiba sosok yang tak asing itu menepuk pundakku
dengan lembutnya. Ternyata itu kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian
penting di hidupku.
Dengan ramahnya kau lontarkan
kata-kata singkat untukku, kau tanya bagaimana kabarku sekarang, dan kau juga
tanyakan bagaimana kabar keluargaku. Hal kecil memang, namun mengejutkan saat
suara serakmu tiba-tiba terdengar lirih di telingaku. Beberapa pertanyaanmu itu
seakan membuatku lupa atas luka yang pernah kau lahirkan dahulu. Rasanya
pertemuan kali ini kembali membuat jantungku berdebar kencang seperti pertama
kali kita bertemu. Entahlah, inikah benci ataukah rindu?
Dengan sedikit tergagap ku coba
membuka bibirku untuk menjawab beberapa pertanyaan kecilmu. Dan sekali lagi
seulas senyum itu kembali lahir diantara lesung pipi yang amat elok. Aku tak
tau, kau tersenyum karena senang bertemu denganku kembali, atau mungkin kau tersenyum
karena melihatku yang salah tingkah. Yah, betapa bodohnya aku hanya mampu
menatap kaku kedua mata itu.
Ternyata hobi kita masih tetap
sama sayang, sama-sama penggila tulisan, penggemar buku, pelahap bacaan, dan cinta
menulis. Seperti katamu dahulu, obat galau yang paling mujarab itu adalah
menulis. Dengan tulisan, kita mampu meluapkan segala emosi dalam jiwa. Memang
benar, itulah sebabnya hingga sekarang kujadikan menulis sebagai kebiasaan
rutinku setiap waktu. Meskipun ini hanya secuil tulisan yang tak ada artinya,
atau bahkan menurut sebagian orang tak ada gunanya. Namun aku bahagia dengan
hal kecil ini.
Setelah keluar dari toko buku,
kau tawari aku untuk menemanimu menyusuri kota semalaman itu, ditengah hempasan
angin malam yang membuat tubuhku membisu. Suasana kala itu memang sangat
dingin, setelah seharian hujan dan gerimis saling bertabur ria. Secara perlahan
kita mulai berjalan berdampingan, kau yang sedari dulu memang banyak bicara
dengan santainya kau mulai bercerita tentang hidupmu yang sekarang. Dengan
lugunya, ku dengarkan ceritamu sambil sesekali kupusatkan pandanganku ke
arahmu. Yah, senyum pelangi itu lagi-lagi mampu menghipnotisku kembali.
Tanpa sadar berjam-jam kita
menyusuri jalanan hingga selarut ini. Buru-buru ku ambil kendaraanku yang
sedari tadi berada di sudut kota itu, sesegera mungkin ku hidupkan mesinnya dan
ku kendarai. Namun sebelum kendaraanku melaju, ku dengar sayup suara serak itu
kembali “Hati-hati dijalan senja, sampai bertemu kembali jika Tuhan meridhoi.”
Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengar kata-katanya lalu kupergi begitu saja.
Kenapa Tuhan? Kenapa dia memanggilku dengan nama panggilan kami dulu, aku benci
saat-saat seperti ini yang mencampuradukkan perasaanku. Mengapa engkau
pertemukanku kembali dengannya setelah bertahun-tahun lamanya ku tak pernah
bertemu dengannya sedekat ini. Dan mengapa sikapnya harus semanis itu lagi
terhadapku, setelah usaha kerasku untuk melupakannya. Lalu mengapa aku juga
harus tau bahwa dia sekarang sendiri, ternyata kepergiannya itu bukan maunya.
Mengapa Tuhan? Mengapa aku harus tau semuanya sekarang. Ah, biarlah ku tak
ingin memusingkan hal itu lagi.
Dan setelah pertemuan itu
ternyata mampu menyadarkanku akan kesalahanku karena telah membencinya. Itu
memang salah, bahkan salah besar jika sampai saat ini aku masih membencinya.
Kenapa seorang lelaki terlihat begitu memukau setelah dia bukan menjadi milik
kita lagi. Hah aku hanya bisa tertawa dengan hal itu. Akhirnya aku tau, tidak
selamanya orang buruk itu akan selalu buruk, dan tidak selamanya pula orang
baik itu akan selalu baik. Segalanya pasti akan berubah dengan berjalannya
waktu.
Dari senjamu yang dahulu pernah kau cintai.
Nganjuk, 20 Januari 2015