Kamis, 20 Agustus 2015

Selamat Seumur Jagung


Perkenalan kita memang masih tak bisa di bilang cukup lama. Pertemuan singkat beberapa bulan yang lalu ternyata berujung manis sampai detik ini. Kini, kamu berhasil menjadi pria satu-satunya yang membuatku takut kehilangan. Kamu, yang selalu mampu mencampuradukkan perasaan ini. Yah, memang cuma kamu yang bisa menumbuhkan dua rasa sekaligus di dalam dada, luka dan tawa. Tapi sayang, aku cukup bahagia dengan permainan hidup yang kuarungi bersamamu.
 
Masih ku ingat jelas saat pertama kali aku berjumpa denganmu, dengan pria yang tak pernah ku temui sebelumnya. Waktu itu, saat aku sedang menikmati percikan canda di kediaman sahabat dekatku, yang sekaligus adalah adik tingkatmu. Aku memang tak pernah menyangka bila pertemuan kita bisa menjadi sedekat ini. Kamu selalu mampu membuatku nyaman. Nyaman ketika berada di dekatmu, bertatap muka, dan bertukar cerita sampai waktu tak pernah terasa begitu lama. 

Awalnya, aku tak pernah berfikir mengenai insiden yang akan terjadi beberapa hari kedepan setelah perjumpaan kita kala itu. Kurasa mustahil jika secepat itu aku kembali memutuskan dua buah kata yang sangat rawan terjadi di kalangan anak muda – jatuh cinta. Memang cukup aneh rasanya. Pertemuan instan yang tak berlangsung cukup lama bisa menghadirkan perasaan yang kurasa sangat konyol. Ah, aku tak pernah ingin tau dengan hal itu. 

Semakin hari, kamu semakin membuatku merasa istimewa. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum oleh energi magis. Perasaan kalut yang waktu itu selalu menjelma dalam fikiranku pun lenyap seketika. Entah mengapa, tak kutemukan lagi sesal yang lama menyelimuti otakku. Kini, aku telah merasakan gundah yang luar biasa. Yah, gundah mengenai hati yang tiba-tiba menjadi tak karuan seperti ini.

Malam itu langit terlihat bersinar begitu sempurna. Suasana mendung yang biasanya tampak di permukaan langit tertutupi oleh pancaran bintang yang bertaburan dalam gelap. Saat itu kamu menyempatkan waktu untuk menghampiriku di tempat yang tidak dekat. Bahkan diluar kota tempat tinggalmu, tingkahmu begitu manis dan mengejutkan. Kamu yang selalu rela jauh-jauh, hanya untuk menemuiku. Hal itulah yang tiba-tiba menumbuhkan sebuah rasa—kagum. Aku mengagumi pengorbananmu hanya untuk wanita sepertiku, wanita biasa yang tak punya apa-apa. Aku salut dengan keinginan yang tersimpan dihatimu. Aku tau sayang, kamu memang pria yang tak mudah menyerah. Dan selalu ingin meraih apapun yang kau mau.

Aku tak percaya, dan aku hanya bisa terdiam saat kau mulai ungkapkan rasa. bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku. 

Kala itu aku pun tak ingin menjawab segala pertanyaan manismu yang kau lontarkan di hadapanku. Rasa gundahku saat itu memang semakin menjadi, aku tak tau harus berkata apa. Hingga akhirnya kau pun pulang dengan wajah yang tak seceria pada awalnya.

Aku berusaha memejamkan mata berusaha melupakan sejenak apa yang terjadi baru saja. Namun entah mengapa terasa begitu sulit untuk segera lelap dalam mimpi. Aku tak mengerti tentang perasaanku. Akhirnya kuputuskan untuk kujadikan kau di dalam bagian baru dalam cerita hidupku. Ternyata, kebahagiaan itu mengalir perlahan dengan sendirinya.

Sekali lagi, terimakasih telah berani mencintaiku. Terimakasih untuk rentetan waktu yang telah berjalan beberapa bulan ini. Kamu adalah sosok penopang segala tawa dan keluh kesahku, aku mencintaimu pria aneh yang selalu membangkitkan syaraf-syaraf kekhawatiranku. Selamat seumur jagung untuk hubungan kita yang masih dibilang belum cukup lama. Doaku, kau lelaki terakhir dihatiku.

Dari perempuan yang kau bilang manja
yang selalu rindu perhatianmu
yang selalu ingin tau kabar darimu
dan selalu takut kehilanganmu

 Kediri, 20 Agustus 2015

Bukan Berlian



Aku memang bukan berlian
Yang berharga dan disukai banyak orang
Aku juga bukanlah apa-apa
Yang pantas untuk engkau banggakan
Aku tahu sayang,
Kau yang sesempurna permata yang indah berkilau
Tak mungkin bersanding denganku
Yang hanya layaknya tanah liat
Yang tak berarti apa-apa
Dan hadirnya pun tak ada gunanya
Namun, ku ingin kau tahu satu hal
Rasa sayangku akan selalu tersimpan rapi dihati ini
Senantiasa mekar walau tak tersentuh air
Senantiasa tumbuh
Dan akan selalu terhenti pada satu nama
Yah, kamu, namamu
Akan selalu begitu
Jangan berfikir ini palsu, kau tahu?
Sejak empat tahun yang lalu
Sejak pertama kali aku berjumpa denganmu
Dan perkenalan itu yang membuatmu jadi sosok istimewa sampai detik ini
Empat tahun, bukan waktu yang singkat memang
Entahlah, aku yang bodoh atau benar-benar tolol
Mencintai seseorang yang tak pernah mencintaiku
Mengagumi seseorang yang tak pernah ada habisnya
Apa kabar satu tahun setelah perpisahan kita?
Apa kau baik-baik saja sayang?
Apa kau masih sekonyol dulu
Yang selalu bertingkah lucu dan suka malu-malu
Aku ingat, empat tahun yang lalu
Saat kita masih duduk di bangku putih abu-abu
Tahukah engkau, kesan pertamaku berjumpa denganmu
Ah, sungguh berbeda memang
Kau lelaki polos yang sederhana
Tak seperti sekarang
Yang luar biasa menggetarkan jiwa
Tetapi, bagaimanapun dirimu
Tak akan merubah sedikitpun rasa dalam dada
Aku menulis ini, ketika fikiranku tak sengaja bergerilya dalam angan
Angan terkenang di pucuk waktu yang telah lama tersimpan
Sekali lagi sayang.
Selamat empat tahun setelah perkenalan kita
Aku senantiasa menjagamu dengan sebongkah doa.

Nganjuk, 28 Maret 2015

Senin, 03 Agustus 2015

Hanya sebatas teman, tidak lebih



Beberapa bulan yang lalu, tepatnya setengah tahun setelah aku berjumpa denganmu dan mengenal sosokmu begitu dekat, lelaki lugu berwajah manis, berkulit putih, dan selalu bertingkah konyol. Sekonyol kelakuanmu saat pertama kali bertemu denganku, yah masih ku ingat jelas saat itu. saat kamu memintaku mengajarimu bagaimana cara bekerja di tempat orang. Kita memang dipertemukan oleh Tuhan di tempat kita mengais rupiah. Memang, pertemuan kita tak cukup indah. Namun hadirmu yang sekejap mampu merubah hariku yang semu menjadi lebih indah.
 
Baru sebentar rasanya aku kenal denganmu, dengan lelaki yang tak ku tahu bagaimana sifat dan karakternya setiap hari, lelaki yang tak ku ketahui bagaimana dia yang sesungguhnya, tetapi yang ku mengerti kamu adalah lelaki sempurna yang tak ku temui dalam perjalanan hidupku sebelumnya. kau istimewa, lembut tutur katamu, sholeh, pekerja keras, apa adanya, selalu mementingkan orang lain di banding dirimu sendiri, dan kau tau? Apa yang paling begitu kusukai darimu sayang? kamu selalu menghargai perempuan, apapun dan bagaimanapun perempuan itu, bahkan yang telah menyakitimu pun masih saja kau bersikap baik dengannya. Benar-benar langka lelaki sepertimu di muka bumi ini.

Kamu memang selalu bersikap manis dengan semua orang, termasuk aku. Selalu kau tunjukkan bahwa kau lelaki terbaik dengan segala kelebihan dan kelemahanmu itu. Tak ku ingkari, bahwa kamu selalu mampu membuat segala gundahku berubah jadi tawa kecil yang menjelma menumbuhkan bahagia luar biasa. Aku salut, karena kaulah sosok baru yang begitu cepat meracuni otakku dengan rasa yang tak biasa—kagum.

Mungkin ini memang rasa kagum yang sengaja hadir seketika di dalam dada. Karena segala perlakuanmu yang tak biasa itu. Tetapi ku sadar, itu hanyalah sebatas kagum, iya hanya rasa kagum. Tidak lebih. Aku menganggapmu seorang kakak yang sangat luar biasa hebatnya, mungkin demikian ada rasa sayang, tetapi rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, begitu.

Tak munafik, saat itu aku memang sedang memiliki seorang kekasih. Seorang kekasih yang begitu kucintai dan mencintaiku. Tetapi salahkah jika aku mengagumi lelaki lain yang bukan siapa-siapaku dan bahkan baru kukenalpun. Kurasa tidak ada yang salah, karena kamu memang pantas untuk ku kagumi dengan pribadimu yang luar biasa baik itu.

Perkenalan kita memang tak cukup lama, mungkin hanya beberapa minggu tetapi rasanya aku sudah sangat dekat denganmu. Aku memang tak pernah memilikimu namun rasanya begitu sakit ketika kau bilang bahwa hari itu adalah terakhir kalinya kita bertemu, memang aneh bukan. Kau selalu begitu banyak alasan jika ku tanyai alasanmu untuk pergi dari tempat kita dipertemukan itu. Kau bilang harus segera membereskan segala sesuatu tentang kuliahmu, tentang hobimu di dunia Kepramukaan, atau mungkin ada hal yang lain. Akupun tak pernah tau sayang. semua alasanmu itu tak ada satupun yang bisa kumengerti, mungkin aku terlalu takut bagaimana selanjutnya aku harus menjalani segala sesuatu kembali yang sudah kubangun sampai detik itu. Tentunya tanpamu lagi.

Akupun terbiasa menjalani hari-hari tanpa sosok yang sangat ku kagumi hatinya. Hingga sampai saat ini, hingga hubunganku pun berakhir dengan kekasihku yang dahulu. Yang kau pun tahu dan selalu mengejekku dengan candaan kecilmu yang selalu mampu membuatku tertawa. Iya, sekarang mungkin sudah setengah tahun setelah perkenalan kita. Saat ini aku dan kamu sudah sama-sama liburan panjang kembali, liburan setelah UAS. Saat ini aku akan menginjak semester 3 dan masih ku tahu kamu akan menginjak semester 7. Kita memang satu kampus perkuliahan, tetapi setelah perpisahan itu sesekalipun aku tak pernah bertemu denganmu lagi atau bahkan bertatap muka tanpa sengaja pun juga tidak pernah.

Aku tahu, mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukanku denganmu hanya untuk sebatas teman, atau hanya sebatas adik-kakak. Mungkin memang demikian, sekali lagi aku sudah cukup bahagia. Terimakasih atas segala hal yang pernah kau berikan untukku, terimakasih untuk sikap manis dan semua perhatianmu yang luar biasa itu. Terimakasih untuk rencana beberapa hari kedepan yang sengaja kau buat untukku, untuk kita. Semoga semua itu tidak hanya sebatas rencana namun akan jadi nyata yang akan tumbuhkan air mata bahagia.


Dari adikmu yang begitu mengagumimu
Kakakku yang begitu sempurna dan istimewa dimataku.

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...