Minggu, 15 Maret 2015

Senja itu Datang Kembali



Sudah berbulan-bulan kita tidak berjumpa, tidak pernah saling bertatap muka ataupun berbicara seperti tiga tahun yang lalu ketika kita masih satu tujuan. Ketika kau pilih jalanmu sendiri tanpa kau hadirkan aku lagi dalam hari-harimu. Akupun bertekat untuk tak mau tau lagi hidupmu dan semua tentangmu. Ku putuskan untuk secepat mungkin hilangkanmu dari benakku. Kau tau? Seberapa keras perjuanganku. Seberapa kuat usahaku melupakanmu sayang? tentu kau tak akan pernah tau. Saat itu, kau putuskan pergi hanya karena sebuah alasan yang menurutku benar-benar konyol dan kurasa selama rentetan waktu kau denganku hanya kau buat main-main. Kau pikir semua itu sebuah permainan? Yah, kau lelaki. Mungkin hal semacam ini selalu kau anggap enteng. Tapi tidak bagiku, karena aku wanita yang selalu terpaut perasaan. 

Aku masih tak habis pikir dengan insiden dua hari yang lalu ketika dengan nyata aku melihat wajah lonjongmu, elok lesung pipimu, senyum pelangimu yang dahulu selalu kau banggakan, suara serakmu yang khas dan masih banyak lagi yang tentunya tak cukup jika kutuliskan dengan kata-kata. Semuanya masih tetap sama, kurasa kau tak banyak berubah seperti tiga tahun yang lalu saat kamu masih menjadi milikku. Mungkin yang membuatmu sedikit berbeda adalah potongan rambutmu yang terlihat rapi serta penampilanmu yang semakin terlihat dewasa. Semenjak kepergianmu, aku memang tak pernah lagi mendengar kabarmu. Mungkin sesekali bertemu dalam kilatan waktu yang itupun tak cukup membuatku tau bagaimana sosokmu dengan jelas. 

Di tengah rentetan buku yang terpajang rapi itu, di sepanjang tumpukan kata yang tersusun dengan indahnya menjadi sebuah bacaan yang sangat menarik, menurutku. Sore itu sehabis hujan reda, ku luangkan waktuku kembali untuk datang ke toko buku—Pustaka 2000. Kembali hanya untuk mencari buku-buku unik yang nantinya akan kujadikan sahabatku menjalani hari-hari. Tanpa ku tau tiba-tiba sosok yang tak asing itu menepuk pundakku dengan lembutnya. Ternyata itu kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian penting di hidupku.

Dengan ramahnya kau lontarkan kata-kata singkat untukku, kau tanya bagaimana kabarku sekarang, dan kau juga tanyakan bagaimana kabar keluargaku. Hal kecil memang, namun mengejutkan saat suara serakmu tiba-tiba terdengar lirih di telingaku. Beberapa pertanyaanmu itu seakan membuatku lupa atas luka yang pernah kau lahirkan dahulu. Rasanya pertemuan kali ini kembali membuat jantungku berdebar kencang seperti pertama kali kita bertemu. Entahlah, inikah benci ataukah rindu?

Dengan sedikit tergagap ku coba membuka bibirku untuk menjawab beberapa pertanyaan kecilmu. Dan sekali lagi seulas senyum itu kembali lahir diantara lesung pipi yang amat elok. Aku tak tau, kau tersenyum karena senang bertemu denganku kembali, atau mungkin kau tersenyum karena melihatku yang salah tingkah. Yah, betapa bodohnya aku hanya mampu menatap kaku kedua mata itu.

Ternyata hobi kita masih tetap sama sayang, sama-sama penggila tulisan, penggemar buku, pelahap bacaan, dan cinta menulis. Seperti katamu dahulu, obat galau yang paling mujarab itu adalah menulis. Dengan tulisan, kita mampu meluapkan segala emosi dalam jiwa. Memang benar, itulah sebabnya hingga sekarang kujadikan menulis sebagai kebiasaan rutinku setiap waktu. Meskipun ini hanya secuil tulisan yang tak ada artinya, atau bahkan menurut sebagian orang tak ada gunanya. Namun aku bahagia dengan hal kecil ini.

Setelah keluar dari toko buku, kau tawari aku untuk menemanimu menyusuri kota semalaman itu, ditengah hempasan angin malam yang membuat tubuhku membisu. Suasana kala itu memang sangat dingin, setelah seharian hujan dan gerimis saling bertabur ria. Secara perlahan kita mulai berjalan berdampingan, kau yang sedari dulu memang banyak bicara dengan santainya kau mulai bercerita tentang hidupmu yang sekarang. Dengan lugunya, ku dengarkan ceritamu sambil sesekali kupusatkan pandanganku ke arahmu. Yah, senyum pelangi itu lagi-lagi mampu menghipnotisku kembali. 

Tanpa sadar berjam-jam kita menyusuri jalanan hingga selarut ini. Buru-buru ku ambil kendaraanku yang sedari tadi berada di sudut kota itu, sesegera mungkin ku hidupkan mesinnya dan ku kendarai. Namun sebelum kendaraanku melaju, ku dengar sayup suara serak itu kembali “Hati-hati dijalan senja, sampai bertemu kembali jika Tuhan meridhoi.” Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengar kata-katanya lalu kupergi begitu saja. Kenapa Tuhan? Kenapa dia memanggilku dengan nama panggilan kami dulu, aku benci saat-saat seperti ini yang mencampuradukkan perasaanku. Mengapa engkau pertemukanku kembali dengannya setelah bertahun-tahun lamanya ku tak pernah bertemu dengannya sedekat ini. Dan mengapa sikapnya harus semanis itu lagi terhadapku, setelah usaha kerasku untuk melupakannya. Lalu mengapa aku juga harus tau bahwa dia sekarang sendiri, ternyata kepergiannya itu bukan maunya. Mengapa Tuhan? Mengapa aku harus tau semuanya sekarang. Ah, biarlah ku tak ingin memusingkan hal itu lagi.

Dan setelah pertemuan itu ternyata mampu menyadarkanku akan kesalahanku karena telah membencinya. Itu memang salah, bahkan salah besar jika sampai saat ini aku masih membencinya. Kenapa seorang lelaki terlihat begitu memukau setelah dia bukan menjadi milik kita lagi. Hah aku hanya bisa tertawa dengan hal itu. Akhirnya aku tau, tidak selamanya orang buruk itu akan selalu buruk, dan tidak selamanya pula orang baik itu akan selalu baik. Segalanya pasti akan berubah dengan berjalannya waktu.

Dari senjamu yang dahulu pernah kau cintai.
Nganjuk, 20 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komen yahh :)

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...