Kamis, 08 Januari 2015

Saat Kalut Berubah jadi Rasa Takut



Malam ini, entah mengapa aku kembali memikirkanmu lagi. Sebuah kalimat sederhana yang kau kirimkan padaku beberapa menit yang lalu ternyata mampu membuat perasaanku tak karuan lagi. Entahlah inikah yang namanya kalut atau perasaan takut. Ku pikir aku mulai mengkhawatirkanmu sayang. Sungguh, tanpa tersadar aku ikut merasakan kesakitan yang kau rasakan saat ini. Yah, kamu sakit. Itu yang kau katakan padaku tadi, sebelum akhirnya ku terlelap dalam gundah. 

Sepertinya, waktu semakin larut. Namun, belum juga kurasakan tanda-tanda untuk ingin segera terlelap di tempat tidurku. Aku masih saja resah memikirkanmu, karna lagi-lagi kau tak ada kabar. Hanya di temani suara merdu rentetan lagu penyanyi idolaku; Bruno mars dan segelas minuman penghangat ini, ku coba kembali untuk membuka laptop diatas meja belajarku. Dan kau tau sayang? lagi-lagi hanya untuk sekedar menulis rangkaian kalimat tentangmu yang tentunya tak pernah terbaca olehmu. Karna ku tau kau tak suka menggubris hal-hal kecil seperti ini. Semua ini karna kau menghilang kembali.

Kali ini, aku mencoba untuk menurut apa katamu sedari dulu untuk selalu percaya denganmu. Mungkin kamu tertidur lagi atau kamu ingin sejenak memulihkan keadaanmu, iya kan sayang? hingga kau melupakanku yang setengah mati memperdulikanmu. Aku tidak ingin sebodoh kemarin lagi. Hingga membuatmu marah sedahsyat itu padaku. Karna rasa curigaku yang memang itu salah.

Meski kita tak sering bertemu. Meskipun aku tak sering melihatmu dalam nyata. Dan hanya lewat handphone mungil ini kita bertukar cerita setiap hari. Tapi percayalah sayang, aku tetap mencintaimu. Dan kini, aku sungguh merindukanmu. Aku rindu kata bijak dari mulutmu, hangat pelukan tubuhmu, genggaman jemarimu, dan ku rindu suara detak jantungmu yang kau tau sangat ku sukai, serta tatapan matamu yang kaupun mengerti sangat kutakuti. Tetapi entah mengapa kini ku sungguh merindukan tatapan itu, dan semua yang kutuliskan itu. Yah, ku tau mungkin karna sudah terlalu lama kita tidak berjumpa. Setelah hampir satu bulan yang lalu ku merasakan semua itu. 

Bukan karena hati kita jauh apalagi tempat kita terlalu jauh. Akan tetapi mungkin memang belum waktunya kita kembali bertemu. Seperti yang selalu kau katakan padaku sayang. Jika memang sudah waktunya bertemu, pasti kita akan bertemu. Aku percaya pada saatnya Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali. Terlalu dekat namun terlalu sulit bertatap muka. Itu pedih.

Dan kini, aku hanya bisa berdo’a untuk kesembuhanmu. Ku ingin kau lekas kembali seperti biasanya yang ceria dan penuh tawa. Meski perhatianku tak kau gubris sedikitpun. Dan kekhawatiranku tak kau hiraukan sekalipun. Aku masih tetap bisa tersenyum dan inginkan kau untuk tak merasakan sakit itu lagi.

Aku begini karna aku menyayangimu. Dan kau mengerti sayang? kamulah alasanku untuk menjadi sekuat ini, meski berkali-kali karena sikapmu tanpa sadar kau melukaiku.

Dari gadis mungil
yang sangat mencintaimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komen yahh :)

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...