Oleh: Binti Riska Nur Astuti, S.Pd.
Pandemi Covid-19 yang menghantam dunia, salah satunya adalah Indonesia sejak Maret 2020 lalu kini masih berangsur-angsur tak kunjung hilang. Banyak masyarakat di negara kita yang menjadi positif terkena penyakit ini, bahkan tidak sedikit nyawa yang tidak tertolong lagi. Banyak dampak yang bisa dirasakan dari musibah ini, entah dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya yaitu menjadikan kita agar berusaha untuk berpola hidup sehat dan selalu peduli dengan kesehatan, mencuci tangan, serta rajin berolahraga. Kemudian dampak negatifnya sangat banyak, salah satunya dalam hal dunia pendidikan juga mendapat pengaruh yang cukup besar. Dengan adanya pandemi ini, memaksa pendidik untuk dapat menyesuaikan diri dalam hal proses belajar mengajar di sekolah.
Pembelajaran daring atau secara familiar disebut sebagai pembelajaran online mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Hal ini memang sering menjadi topik pembicaraan di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang terjun di dunia pendidikan. Peran guru cukup besar dalam mendukung keberhasilan proses belajar mengajar setiap hari. Pembelajaran daring menjadi opsi yang diterapkan semua sekolah di Indonesia sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim.
Pelaksanaan pembelajaran daring ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Banyak kendala yang dapat dirasakan, oleh guru maupun siswa. Penulis sebagai salah satu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di salah satu sekolah SMA swasta di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur juga merasakan hal tersebut. Tergolong guru muda, pengalaman saya memang belum terlalu banyak. Saya terjun di dunia pendidikan dan menjadi seorang guru, baru berjalan tiga tahun terhitung sejak September 2018. Masih perlu banyak belajar menghadapi seluk beluk dunia pendidikan.
Dari fakta yang di dapat, tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran daring ini, mungkin bisa dikatakan hanya 70% dari yang diharapkan. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka di kelas, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring memang tidak bisa berjalan maksimal. Salah satu faktor yang menyebabkan kurang maksimalnya pembelajaran daring yaitu keterbatasan alat yang digunakan, rasa malas yang berlebihan, serta kurangnya motivasi belajar siswa. Memang berbeda mengajar di sekolah negeri dengan sekolah swasta. Anak-anak di sekolah swasta sangat luar biasa. Luar biasa sikap dan perilakunya super bandel dan susah diatur. Mereka memiliki anggapan sekolah swasta tidak seketat sekolah negeri. Siswa yang sering membuat ulah resikonya dapat dikeluarkan dari sekolah. Sedangkan di sekolah swasta tidak sama seperti itu. Sehingga siswa sering meremehkan pelajaran dalam proses belajar mengajar.
Menghadapi problematika tersebut, ketika proses pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung. Metode pembelajaran daring yang saya lakukan, semakin hari kian tak dihiraukan oleh beberapa siswa. Awalnya mereka memang antusias, apalagi sebelum adanya pandemi covid-19 di sekolah kami sudah menerapkan pembelajaran melalui sarana handphone. Pihak sekolah mengelola suatu website atau aplikasi daring yang bernama “Google Classroom”. Jadi meskipun guru melaksanakan pembelajaran di kelas, juga diizinkan untuk memanfaatkan aplikasi tersebut agar siswa lebih tertarik dan memperluas wawasannya dalam hal teknologi dan komunikasi.
Setelah beberapa bulan berlangsung, semangat peserta didik kian menurun. Saya mencoba bertanya kepada beberapa anak di sekolah saya mulai tingkat X, XI, maupun XII. Jawaban mereka sama, jenuh, bosan, malas, pengennya cepat masuk sekolah dan tatap muka di kelas lagi seperti dahulu. Namun waktu itu, karena situasi memang tidak memungkinkan untuk sekolah melaksanakan tatap muka (luring) maka Kepala Sekolah juga mengikuti aturan dari Dinas Pendidikan setempat untuk tetap melaksanakan pembelajaran daring.
Kala itu, materi Bahasa Indonesia kelas XII yang saya ajarkan adalah “Surat Lamaran Kerja”. Suatu materi yang cukup penting dalam implementasinya di dunia kerja. Materi ini tidak cukup berhasil jika siswa hanya diberikan materi dan tugas saja tanpa harus dijelaskan oleh guru. Sebuah video pembelajaran pun terkadang tidak disimak oleh mereka. Sikap acuh yang seperti ini membuat saya menjadi bimbang, apalagi mayoritas anak laki-laki yang seringkali tidak memerhatikan bahkan jarang mengumpulkan tugas yang telah diberikan. Saya tunggu sampai 2 kali pertemuan berlangsung, ternyata tugas-tugas yang terkumpul masih 50% saja. Menulis surat lamaran kerja pun alakadarnya, tidak rapi, tidak sesuai kaidah kebahasaan dan sulit terbaca. Mungkin hanya beberapa anak saja yang menulis dengan benar dan rapi. Padahal dalam pelajaran Bahasa Indonesia siswa dituntut untuk menguasi empat keterampilan berbahasa, diantaranya menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Namun hal tersebut sulit terealisasi dengan baik.
Saya mencoba berkomunikasi dengan beberapa teman guru baik dari sekolah saya maupun teman guru dari sekolah lainnya. Beberapa teman dari sekolah negeri menggunakan sistem pembelajaran dengan memanfaatkan aplikasi seperti zoom meeting, google meet dan lainnya yang bisa memudahkan guru dan siswa dalam berinteraksi tatap muka secara langsung meskipun tidak dalam satu lokasi yang sama.
Perlahan saya mulai berpikir untuk mencoba menggunakan salah satu aplikasi tersebut untuk pembelajaran di sekolah. Meskipun melihat faktanya, di sekolah kami belum ada yang menggunakan aplikasi tersebut. Mungkin kalau di sekolah negeri sudah tidak asing lagi bahkan guru diwajibkan mengajar secara daring tetapi tatap muka langsung, seperti itu. Metode ini bisa disebut dengan metode “Blended Learning” yaitu suatu metode pembelajaran yang digunakan dengan dua pendekatan sekaligus. Metode ini tidak hanya menggunakan sistem daring akan tetapi juga tatap muka melalui video converence. Jadi, meskipun proses belajar mengajar dilakukan secara daring baik pendidik maupun peserta didik tetap dapat berinteraksi satu sama lain.
Pertama saya menghimbau siswa untuk memasang aplikasi google meet di play store. Kemudian menjelaskan kepada mereka cara mengaplikasikannya. Jika memori handphone penuh juga tidak perlu khawatir. Mereka tidak perlu memasang aplikasi ini, karena bisa juga dengan menggunakan gmail masing-masing. Setiap handphone atau laptop pasti sudah login ke gmail. Lalu, kita mencoba melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui aplikasi tersebut. Mereka sangat antusias, itu kali pertama bisa melihat wajah-wajah mereka lagi. Awalnya bertanya kabar, kemudian dilanjutkan penjelasan materi pelajaran. Saya menjadi lebih leluasa berinteraksi dengan mereka, materi pun juga tersampaikan dengan baik. Siswa yang belum paham bisa langsung bertanya dengan saya dan di dengarkan pula oleh teman-teman yang lainnya.
Berjalan 1-3 bulan metode ini berjalan dengan baik. Melalui google meet kita bisa melaksanakan pembelajaran setiap hari. Siswa bisa mendapatkan 4 keterampilan berbahasa tersebut dengan lancar. Di sela-sela pelajaran, saya tidak hanya menjelaskan materi saja. Namun siswa juga dapat mengungkapkan pendapat masing-masing, memperlancar kemampuan membaca (literasi), dan memahami bacaan. Menggunakan panduan buku teks siswa, saya selalu menyuruh mereka untuk membaca bergilir satu-per satu dan menunjuknya secara acak. Supaya siswa bisa tetap memerhatikan dengan baik.
Dengan menggunakan metode “Blended Learning” pembelajaran daring bisa menjadi lebih efektif. Selain dapat berinteraksi secara langsung, metode ini juga dapat dilaksanakan dimana pun dan kapan pun dengan menggunakan internet. Peserta didik dapat dengan mudah mengakses materi secara luas dan dituntut pula dapat belajar secara mandiri karena bahan ajar sudah tersedia secara online. Oleh karena itu, peran guru cukup besar dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Guru harus bisa menggunakan metode dan strategi yang tepat sesuai dengan keadaan siswa yang diajarkannya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan sesuai dengan yang diharapkan. Siswa juga akan antusias mengikuti pelajaran dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen yahh :)