Predikat Bucin dan Alay
Karya: Silvia Berlian Putri
Istilah bucin alias budak cinta kini sudah tidak asing lagi terdengar karena memang cukup populer di Indonesia terutama di kalangan remaja. Bucin merupakan bahasa gaul sehingga tidak di temukan dalam KBBI. Menurut kebanyakan orang bucin adalah orang yang rela melakukan apapun untuk orang yang dicintainya, tanpa berpikir dahulu menggunakan logika.
Namun ada anggapan lain bahwa setiap orang yang sedang berpacaran adalah bucin apalagi ketika dipamerkan di social media. Menurut pengalaman pribadi, saya pernah memposting foto dengan pacar saya di social media dan beberapa teman saya mengomentarinya bucin lah, alay lah. Mudah sekali bukan mendapat predikat bucin?
Mungkin beberapa dari kalian mengalami hal itu juga ketika memposting foto dengan pacar, memposting quotes tentang hal-hal yang berbau cinta, menposting vidio galau dan beberapa hal lainnya. Ketika memposting sesuatu di social media tentu akan dilihat oleh friends list kita, banyak orang yang melihat tentunya respon yang di dapat pun beragam. Misalnya nih kita mengunggah puisi romantis karya kita sendiri, mungkin respon yang di dapat ada yang seperti “wow indah banget puisinya”, “jadi ikut galau”, “ijin kopas kak”, “dih bucin”, “jelek ah pemilihan katanya terlalu alay” dan lain lain. Komentar-komentar tersebut mungkin bermaksud untuk membuatmu jadi lebih baik. Tetapi, hal tersebut terkadang dimaknai berbeda dan justru membuatmu stres. Untuk mengatasi situasi tersebut kamu perlu mempunyai sikap bodo amat atau tidak peduli. Bukan karena egois, tetapi karena ada alasan yang lebih masuk akal. Dengan memiliki sikap bodo amat akan mengajarkanmu tentang apa saja yang benar-benar penting bagi diri sendiri dengan tidak memedulikan komentar negatif.
Respon orang lain bukanlah hal yang bisa kita kontrol, yang bisa kita kontrol adalah bagaimana respon diri sendiri terhadap pendapat orang lain. Menerima atau tidak, mengabaikan atau menanggapi. Mirisnya beberapa orang terlalu memperdulikan penilaian orang lain tentang dirinya sehingga ketika mendapat komentar-komentar seperti itu ada yang langsung menghapus postingannya, ragu-ragu untuk memposting sesuatu di social media karena terlalu memikirkan tanggapan orang lain dan bahkan ada yang menjadi takut untuk memposting karnyanya dan memilih untuk menyembunyikannya.
Memposting sesuatu di social media merupakan kebebasan bagi penggunanya asal tidak melanggar standar komunitas dan bertanggung jawab. Mengenai respon orang lain harusnya kita tidak perlu ambil pusing. Mendapat predikat bucin atau alay hanya dengan memposting foto dengan pacar atau membuat puisi tidak menjadikan kita budak cinta dan alay beneran. Kalau hidup hanya peduli tentang penilaian orang lain, terus kapan kita akan menikmati hidup? Jadi jangan takut untuk memposting sesuatu di sosmed dan teruslah berkarya.
Nganjuk, 09 Februari 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen yahh :)