DEAR . 02 september 2013
Hari ini, ku tak mampu lagi mengucap kata-kata, mungkin hanya dengan menulis bisa membuat
hatiku lebih lega . Semuanya seperti mimpi, kini semua mimpi-mimpiku untuk
memilikimu telah hilang bersama angin yang menghantam tubuhku membuatku kaku
dan membisu. Entahlah apa yang ingin ku lakukan saat ini, hati ini terus
bertanya-tanya? Mungkin inilah waktunya berhenti mengharapkanmu yang hanya
sesaat datang dan begitu saja pergi tanpa permisi. Kau selalu mempermainkan
perasaanku. Seperti api yang selalu dipermainkan oleh angin. Biarlah aku
seperti api, ia mampu bersinar di
tengah-tengah kegelapan. Begitu pula diriku, meskipun demikian aku masih tetap
bertahan untuk tetap mencintaimu.
Dalam do’a selalu terselip namamu. Meskipun kau telah bahagia
bersama orang yang kau cintai, aku akan tetap bahagia disini meskipun tanpamu.
Aku berdo’a semoga kau bahagia bersamanya dan aku bahagia bersama orang-orang
yang menyayangiku walau tanpa sosok indah dirimu yang selalu membuatku bahagia.
Bersama mereka membuat hariku kembali berwarna. Seperti mendung kini datanglah
hujan lalu lenyap berganti panas dan langit tampak begitu cerah. Aku ingin
seperti itulah perjalanan hidupku. Selamanya langit akan selalu cerah dan
bersinar. Tapi mampukah aku yang rapuh ini? Seandainya boleh memilih, dulu aku
tak mau jatuh hati padamu. Jika sekarang membuat luka di hatiku. Namun, apalah
arti penyesalan yang sudah terlanjur terjadi?
Dulu kau benar-benar istimewa. Membuatku kagum dengan apa
adanya dirimu. Aku sadar, ternyata aku salah. Semua perhatianmu memang hanya
sesaat untukku. Tatapan mata yang selalu mencampuradukkan hatiku kini semua
terjawab sudah. Semua tanpa makna. Betapa bodohnya aku yang selalu berharap
lebih. Tanpa berfikir jika penyesalan pasti akan menghantuiku nanti. Dan
sekarang terjadi. Hatiku teriris menyedihkan, hancur beribu keping. Saat
hitungan detik mampu menghadirkan sebuah luka. Apakah aku masih bisa tersenyum
melihat kenyataan pahit ini? Kurasa aku tak bisa. Detik itu juga air mata
menetes tanpa kusadari aku tak mampu membendungnya. Inikah pahitnya takdir yang
harus kuterima? Aku Cuma butuh kekuatan darimu Tuhan. Agar aku tegar menghadapi
semuanya. Aku tak ingin keringanan darimu.
Kau yang membuatku jatuh cinta, kau juga yang membuatku
terluka. Mungkin inilah pahitnya cinta. Sebagai manusia aku hanya bisa
menerima, Tuhanlah yang berencana. Bagaimana kemarin, hari ini, esok, dan
seterusnya. Hari ini aku memang benar-benar merasa sedih tapi aku yakin esok
aku pasti bisa bahagia entah bersama siapapun itu. Tuhan maha segalanya. Ia tak
mungkin membiarkan hambanya selalu merasakan satu rasa, pahit.
Aku tak ingin membencimu. Bagaimanapun engkau pernah membuat
hariku berwarna. Meskipun hanya sementara. Lalu bagaimana aku menahan sakit
hati ini? Tolong beritahuku Tuhan. Apa yang harus ku lakukan saat bertatap muka
denganmu nanti? Apa seolah-olah tak terjadi apa-apa. Atau sementara aku harus
menghindar dari tatapanmu? Sampai hatiku merasa tenang. Hah semuanya
benar-benar membingungkan. Yang ku tau melupakan itu tidak semudah mencintai.
Butuh waktu begitu lama. Tapi aku berharap keajaiban. Ku tak ingin waktu yang
lama hanya untuk sebuah kata ‘lupa’. Namun, aku tau itu tak mungkin. Rasa
takutpun selalu menghantuiku. Ku takut tak berdaya melupakamu.
Dan akhirnya, sekarang aku memang harus melupakan segalanya.
Tak kusangka harus seperti inikah jalan hidupku. Begitu dekat dengan cinta
namun tak kuasa merengkuhnya. Tak sempat memilikinya tapi kenapa aku merasa
hatus melepaskannya dan merelakannya untuk orang lain. Jagalah dia Tuhan
meskipun bukan untukku melainkan untuknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komen yahh :)