Sabtu, 19 Oktober 2013

bukan penyesalan melainkan harapan :)


DEAR . 02 september 2013

        Hari ini, ku tak mampu lagi mengucap kata-kata,  mungkin hanya dengan menulis bisa membuat hatiku lebih lega . Semuanya seperti mimpi, kini semua mimpi-mimpiku untuk memilikimu telah hilang bersama angin yang menghantam tubuhku membuatku kaku dan membisu. Entahlah apa yang ingin ku lakukan saat ini, hati ini terus bertanya-tanya? Mungkin inilah waktunya berhenti mengharapkanmu yang hanya sesaat datang dan begitu saja pergi tanpa permisi. Kau selalu mempermainkan perasaanku. Seperti api yang selalu dipermainkan oleh angin. Biarlah aku seperti api,  ia mampu bersinar di tengah-tengah kegelapan. Begitu pula diriku, meskipun demikian aku masih tetap bertahan untuk tetap mencintaimu.
        Dalam do’a selalu terselip namamu. Meskipun kau telah bahagia bersama orang yang kau cintai, aku akan tetap bahagia disini meskipun tanpamu. Aku berdo’a semoga kau bahagia bersamanya dan aku bahagia bersama orang-orang yang menyayangiku walau tanpa sosok indah dirimu yang selalu membuatku bahagia. Bersama mereka membuat hariku kembali berwarna. Seperti mendung kini datanglah hujan lalu lenyap berganti panas dan langit tampak begitu cerah. Aku ingin seperti itulah perjalanan hidupku. Selamanya langit akan selalu cerah dan bersinar. Tapi mampukah aku yang rapuh ini? Seandainya boleh memilih, dulu aku tak mau jatuh hati padamu. Jika sekarang membuat luka di hatiku. Namun, apalah arti penyesalan yang sudah terlanjur terjadi?
        Dulu kau benar-benar istimewa. Membuatku kagum dengan apa adanya dirimu. Aku sadar, ternyata aku salah. Semua perhatianmu memang hanya sesaat untukku. Tatapan mata yang selalu mencampuradukkan hatiku kini semua terjawab sudah. Semua tanpa makna. Betapa bodohnya aku yang selalu berharap lebih. Tanpa berfikir jika penyesalan pasti akan menghantuiku nanti. Dan sekarang terjadi. Hatiku teriris menyedihkan, hancur beribu keping. Saat hitungan detik mampu menghadirkan sebuah luka. Apakah aku masih bisa tersenyum melihat kenyataan pahit ini? Kurasa aku tak bisa. Detik itu juga air mata menetes tanpa kusadari aku tak mampu membendungnya. Inikah pahitnya takdir yang harus kuterima? Aku Cuma butuh kekuatan darimu Tuhan. Agar aku tegar menghadapi semuanya. Aku tak ingin keringanan darimu.
        Kau yang membuatku jatuh cinta, kau juga yang membuatku terluka. Mungkin inilah pahitnya cinta. Sebagai manusia aku hanya bisa menerima, Tuhanlah yang berencana. Bagaimana kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya. Hari ini aku memang benar-benar merasa sedih tapi aku yakin esok aku pasti bisa bahagia entah bersama siapapun itu. Tuhan maha segalanya. Ia tak mungkin membiarkan hambanya selalu merasakan satu rasa, pahit.
        Aku tak ingin membencimu. Bagaimanapun engkau pernah membuat hariku berwarna. Meskipun hanya sementara. Lalu bagaimana aku menahan sakit hati ini? Tolong beritahuku Tuhan. Apa yang harus ku lakukan saat bertatap muka denganmu nanti? Apa seolah-olah tak terjadi apa-apa. Atau sementara aku harus menghindar dari tatapanmu? Sampai hatiku merasa tenang. Hah semuanya benar-benar membingungkan. Yang ku tau melupakan itu tidak semudah mencintai. Butuh waktu begitu lama. Tapi aku berharap keajaiban. Ku tak ingin waktu yang lama hanya untuk sebuah kata ‘lupa’. Namun, aku tau itu tak mungkin. Rasa takutpun selalu menghantuiku. Ku takut tak berdaya melupakamu.
        Dan akhirnya, sekarang aku memang harus melupakan segalanya. Tak kusangka harus seperti inikah jalan hidupku. Begitu dekat dengan cinta namun tak kuasa merengkuhnya. Tak sempat memilikinya tapi kenapa aku merasa hatus melepaskannya dan merelakannya untuk orang lain. Jagalah dia Tuhan meskipun bukan untukku melainkan untuknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komen yahh :)

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...