Jumat, 29 November 2013

cerpen pertamaku :)


SECUIL LUKA TUMBUHKAN MILYARAN TAWA

Hari ini begitu cerah. Langitpun terlihat sangat indah, ditemani sang surya dengan sinar terangnya yang menerobos cepat sampai ke sudut-sudut bumi ini. Kicauan burung yang bernyanyi di atas pohon besar di samping sekolah juga terdengar merdu menyambut indahnya mentari pagi. Suasana kelas saat ini masih terlihat sunyi. Semua bangku dalam ruangan inipun masih terlihat kosong, kecuali meja dan kursiku yang terletak paling depan dari rentetan bangku lainnya.
“Kenapa cerahnya langit tak secerah hatiku saat ini? Kenapa masalah tak hentinya datang tanpa permisi? Mempermainkan perasaanku, membuatku bertanya-tanya akan keindahan di balik semua ini” pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benakku. Entahlah aku benar-benar bingung, apa yang harus aku perbuat nanti. Apakah sebuah kata maaf dapat merubah semuanya jadi lebih baik.
Kudengar suara hentakan kaki dari luar kelas. Semakin lama suara itupun terdengar semakin jelas. Tak mungkin salah, hentakan kaki itu menuju ruangan kelas yang kutempati saat ini.
“Apakah itu Arka? Aku tau kebiasaannya, dia selalu berangkat paling pagi dari siswa lainnya. Tak mungkin salah lagi.” Fikirku dalam hati. Cowok berbadan tegap, berkulit coklat, dan memiliki model rambut yang acak-acakan itu sudah menjadi ciri khas dia. Arka adalah sahabatku dari kecil. Mulai aku dan dia dilahirkan hingga saat ini orang tuaku dan orang tuanya begitu dekat. Aku dan Arkapun demikian. Tak pernah ada masalah, semuanya terlalu indah.
Ternyata benar semua tebakanku tadi. Arka muncul dari balik pintu lalu menyelonong masuk begitu saja. Sekilas dia menatapku, namun sekejab dia mengalihkan pandangannya dan segera menuju bangku paling belakang yang di tempatinya setiap hari. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mungkin hanya tatapan mata yang dapat berbicara.
Memang, aku tak melihat sedikitpun kebencian dari wajahnya. Mungkin hanya ada kekecewaan yang mendalam dihatinya. Dan itu tercipta untukku. Karna kesalahpahaman semua keindahan lenyap menjadi kekecewaan.
Kutengok disekelilingku masih terlihat sepi. Mungkin hari ini aku berangkat terlalu pagi dari biasanya. Perlahan, aku mencoba mendekati Arka. Memberanikan diri untuk meminta maaf padanya. Meskipun aku tau mungkin kata maaf tak dapat merubah semua yang telah terjadi. Atau mungkin kata maaf tak dapat menghapus sebuah kekecewaan. Tetapi setidaknya aku sudah berusaha memulihkan keadaan ini. “Beri kekuatan untuk Cika Tuhan. “ akupun berusaha meyakinkan diri sendiri.
“Hey, aku ingin bicara. Aku ingin minta maaf atas semua perbuatanku yang mungkin menyakitimu. Aku tau kekecewaanmu begitu dalam. Tetapi kalau boleh memilih aku juga tak ingin semua ini terjadi.” Akupun mulai berbicara dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
“Sudahlah, lupakan. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya yang telah terjadi tak mungkin kembali seperti semula.” Jawab Arka dengan wajah kesalnya.
“Aku tau itu. Aku mengerti rasanya kecewa. Teramat sakit bukan? Tapi salahkah bila aku ingin meminta maaf padamu? Salahkah bila aku ingin memulihkan keadaan suram ini? Tuhan saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak? Aku cuma ingin sebuah kalimat sederhana keluar dari mulutmu, maafkankanlah aku.” Ucapku lirih sambil menitikkan air mata.
Setelah mendengar kata-kataku itu Arkapun akhirnya mau memaafkanku. Aku sangat bersyukur Tuhan. Aku selalu tau engkau maha segalanya. Tak akan ada masalah tanpa hikmah. Engkau selalu punya rencana indah di balik kejamnya lika-liku kehidupan ini.
**
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Dalam sekejab masalah itu hilang melayang tak terjangkau oleh pandangan. Aku merasa bahagia, hidupku terasa sempurna dikelilingi keluarga dan sahabat yang begitu menyayangiku. Tanpa balasan apapun atau tuntutan apapun. Mereka menciptakan spektrum warna dalam kehidupanku yang indah ini. Terimakasih Tuhan engkau telah memberikanku hidup di tengah-tengah hangatnya surga kecil yang telah mereka ciptakan. Semoga ini tak sementara namun ku berharap selamanya. “Tetapi, terlalu munafikkah diriku, jika ku mengharap semua itu?” aku hanya bisa bertanya penuh harapan.
**
Bulan demi bulanpun berlalu. Kini tiba saatnya dimana takdir harus berbicara. Semula aku terkejut hampir tak percaya. Akupun tak pernah membayangkan sebelumnya. semuanya seperti mimpi buruk bagiku. Aku memilih diam dan menyembunyikan kenyataan pahit ini dari Arka. Aku tak ingin menumbuhkan kekecewaan yang kedua kalinya dihatinya. Mungkin ini yang terbaik saat ini.
Dua hari lagi momen penting dalam hidupku akan terjadi. Pengumuman kelulusan. Itulah yang ku nanti-nantikan selama ini. Aku berharap keajaiban akan menghampiriku kembali. Rasanya sudah tak sabar mununggu hari itu. Tatkala mengingat semua itu. Aku jadi ingat perkataan mama dan papaku kemarin.
“Apakah aku sanggup menjalani kehidupan baruku nanti? apakah kehidupan baruku nanti akan seindah kisah hidupku saat ini? Tentunya tanpa orang yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupku, Arka. Jujur benih-benih cinta itu mulai ada dalam hatiku. Diam-diam aku mulai menyukai Arka. Tetapi mengapa aku baru menyadarinya sekarang, dan disaat itu pula aku harus benar-benar menerima kenyataan bahwa aku dan dia tak mungkin bersatu. Aku tau ini salah. Tak seharusnya perasaan ini tumbuh dari hatiku. Keadaan ini semakin mempersulitku.” Keluhku dalam hati.
**
Hari demi haripun berlalu. Hingga saat ini pengumuman kelulusan telah tiba. Bingung, takut, gundah, senang semuanya jadi satu. Mencampuradukkan perasaanku. Aku tak menyangka bahwa aku sudah mulai dewasa, sebentar lagi aku akan merasakan indahnya masa putih abu-abu. “Bagaimana ya rasanya jadi anak SMA ? hmm, begitu indah bukan?” tanyaku dalam hati.
“Terimakasih Tuhan ! ternyata sebuah kata “lulus” mampu menghadirkan bahagia yang luar biasa untukku. Aku bersyukur mendapatkan nilai yang cukup memuaskan ini. Aku ikut senang Arka juga lulus dengan nilainya yang memuaskan pula. Tapi aku takut kebahagiaan ini hanya sementara?” rasa syukur dan keluhan itu tiba-tiba keluar dari mulutku.
**
Beberapa hari kemudian, aku menemui Arka ditempat biasa kita bertemu. Ternyata dia sudah ada disana. Perasaan kalut ini mulai menyelimutiku. Darimanakah aku harus mulai berbicara. Seakan bibirku terkunci rapat sebagai tanda ketidakrelaan keluarnya kata-kata pahit dari mulutku nanti. Oh Tuhan. Beri aku kemudahan.
Arkapun mulai bertanya-tanya padaku. Mengapa aku mengajaknya bertemu disini. Dia juga berkata bahwa dia ingin mengajakku bersekolah pada sekolah yang sama. Aku semakin takut perkataanku nanti akan memupuskan harapannya. Tapi aku harus benar-benar berbicara padanya.
“Arka, besok aku akan pindah ke Makassar. Papaku ada panggilan kerja disana. Mungkin saat ini terakhir kali kita bertemu. Dan selamanya aku akan tinggal disana. Maafkan aku !” dengan menahan tangis, aku berusaha tegar berbicara itu kepada Arka.
“Tidak ! kamu bohong. Iya kan cik? Aku tau kamu cuma pura-pura berbicara seperti itu. Sudahlah jangan bercanda mulu. Nggak lucu tau !” Tanggapan enteng dari Arka itu semakin membuatku kesal.
“Apa wajahku kelihatan bercanda? Aku serius. Sudahlah, aku harus siap-siap sekarang. Besok aku harus benar-benar berangkat.” Jelasku singkat sambil pergi meninggalkan Arka.
Sebenarnya dalam hati kecilku tak tega melihat raut muka Arka yang diselimuti kesedihan. Namun apa daya, inilah takdir yang harus aku dan Arka jalani saat ini.
Arkapun menarik tanganku. Dia berusaha menahanku pergi dan mengikutiku dari belakang. Langkah kaki inipun semakin berat. Tanpa sadar air mata mulai membasahi pipiku. Tak hentinya dia terus dan terus bertanya akan kejelasan semua ini. Tapi aku hanya terdiam. Sampai di rumah, akupun segera masuk ke dalam kamar, lalu mengunci rapat pintu kamarku. Aku mendengar suara teriakan Arka dari luar rumahku. Tetapi, tak sedikitpun aku menghiraukannya. Semua itu membuatku semakin bersalah.
**
Pagi harinya sebelum aku pergi, ia memberikan sebuah surat kecil untukku. Entahlah apa isinya. Dia menyuruhku tidak membukanya sekarang. Dan itu semakin membuatku penasaran. Aku melihat air mata kesedihan dalam matanya. Tapi aku juga melihat ketegaran yang luar biasa dalam dirinya. Aku percaya Arka adalah laki-laki yang kuat.
“Cika, ayo masuk ke mobil. Kalau kelamaan kita bisa ketinggalan pesawat sayang.” Ajak mama sambil mengunci pintu rumah yang kutempati saat ini.
“iya ma, sebentar” jawabku lirih.
“Selamat tinggal Arka. Aku berharap kamu baik-baik saja. Semoga kamu bahagia disini. Walaupun tanpa aku.” Ucapku pelan kepada Arka.
“sssst, jangan pernah katakan perpisahan, karna itu akan menghapus harapan kita untuk berjumpa kembali. Jika Allah berkehendak, suatu saat kita pasti bertemu lagi.” Sahut Arka. Perkataaannya itu seakan membuatku tenang. Aku iri kepadanya kenapa dia bisa setegar ini. Sedangkan aku tidak.
Perlahan suara tajam mobil yang di kendarai papaku mulai meninggalkan kota ini. Pepohonan hijau yang rindang, suara menawan burung bernyanyi lama-kelamaan mulai tak terdengar lagi di telingaku. tiga jam lebih aku berada didalam mobil ini, tiba-tiba kuteringat surat kecil dari Arka tadi.
“Hmm, sudah tak sabar rasanya ingin membuka surat kecil ini.” Akupun mencoba membukanya perlahan lalu membacanya.

Dear . . .
Buat sahabatku tercinta
Waktu yang mempertemukan kita
Waktu pula yang memisahkan kita
Biarlah begitu jauh jarak diantara kita
Aku berharap tak akan ada air mata
Dan kupercaya perpisahan bukan akhir segalanya

**
Tiga tahun menguap cepat. Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabar dari Arka. Terkadang kurindu saat-saat indah bersamanya. Dia yang tak pernah bosan memberikan pengertian-pengertian kecil di setiap masalah yang menghampiriku. Dia yang selalu ada untukku saat aku terpuruk kesakitan ataupun disaat kumerasakan indahnya sebuah kebahagiaan. Dia selalu mampu memberikan warna dalam hidupku. Namun semua itu hanyalah kenangan semu. Aku sadar sekarang tak ada lagi dia dihidupku.
**
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang aku sudah lulus SMA begitupula Arka. Aku sudah mulai mendaftar di beberapa universitas. Dan akhirnya aku diterima di sebuah universitas ternama di Indonesia, Universitas Brawijaya. Hmm, betapa bahagianya diriku. Sekarang aku tinggal di kota Malang. Semua yang ku impi-impikan akhirnya tercapai.
Suatu hari aku duduk di sebuah tempat favoritku di kampus.
Tiba-tiba lelaki tinggi berbadan tegap dengan model rambut yang lumayan rapi datang menghampiriku. Aku tak tau darimana asalnya lelaki ini, dengan cepatnya muncul dihadapanku. Lalu dengan santainya duduk disampingku. Semula aku terkejut. Namun dalam sekejap jantungku berdebar begitu kencang. Aku seperti mengenal dekat lelaki disampingku ini. Aku baru sadar ternyata dia adalah Arka. Mungkin karena model rambutnya yang baru, Arka terlihat berbeda. Dia terlihat semakin dewasa sekarang. Kerinduan yang begitu dalam dihatiku seakan lenyap. Dia berbisik lirih di telingaku “Secuil luka tumbuhkan milyaran tawa” lalu lahirlah senyuman kecil di bibirku. Sekarang aku percaya takdir Tuhan itu tak ada yang tidak mungkin. Ternyata Arkapun kuliah ditempat yang sama denganku.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komen yahh :)

Standard API (American Petrolum Institute)

  Oleh: Kivan Agung API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute merupakan sebuah kode standar yang menentukan kualitas ol...